We Are The Wave (2019) adalah Serial untuk Kamu, Remaja yang Benci Fasis dan Nazi

0
148
We Are The Wave,
Gambar: Netflix (Youtube)
  • Peringatan. Tulisan ini mengandung spoiler. Tidak disarankan untuk anda yang belum menonton filmnya.

We Are The Wave (Wir sind die Welle) adalah serial remaja buatan Jerman yang tayang di Netflix sejak November 2019. Bercerita tentang sekelompok remaja yang melawan fasisme dan neo-Nazi.

Diadaptasi dari film The Wave/Die Welle (2008) dan novel dengan judul yang sama. Dengan plot yang sama sekali berbeda dari buku dan film adaptasinya.

Ulasan

Dalam film dan buku, cerita We Are The Wave digerakkan oleh Rainer Wegner yang menjalani kehidupan ganda sebagai guru sejarah dan seorang anarkis. Dia menjalankan sebuah kelas dengan simulasi perang dunia kedua. Untuk memberi gambaran betapa buruknya keadaan Jerman di bawah kediktatoran Nazi.  Kelas ini menginspirasi beberapa siswa untuk membangun sebuah gerakan bernama The Wave.

Serialnya tidak menampilkan Rainer Wegner. Tapi, ceritanya masih tentang kehidupan para remaja. Kehidupan beberapa siswa sebuah kota fiktif di Jerman-Meppersfeld, berubah drastis sejak kedatangan seorang siswa bernama Tristan Bjorch (Ludwig Simon).

Lea Herst (Luise Befort) adalah remaja manja dari keluarga kaya. Siswi populer di sekolah, tapi bosan dengan kehidupannya. Suatu hari seorang siswa baru bergabung di kelas dan menarik minatnya. Dengan jaket musim dingin, celana latihan, dan kaos Saint Pauli, siswa ini mencuri perhatian seisi kelas dengan komentar yang cerdas. Itulah Tristan Bjorch.

Tristan punya kehidupan ganda seperti Wegner. Siswa SMA, sekaligus Anti Fasis yang aktif dalam aksi-aksi black bloc melawan kelompok Neo Nazi. Setelah ditangkap karena membakar enam mobil, dia pindah ke Meppersfeld.

Baca juga: Dugaan Saya, Keajaiban di Messiah adalah Trik Hasil Kerjasama para Ilmuwan

Rahim Hadad (Mohamed Issa), remaja muslim yang tumbuh dalam bayang-bayang diskriminasi dan ancaman penggusuran. Menjadi muslim dan keturunan Arab, membuatnya jadi sasaran para siswa pengikut neo nazi yang membenci minoritas. Dia berpikir akan dirundung lagi ketika Tristan mendatanginya di toilet sekolah. Tapi prasangka itu hilang ketika Tristan mengajaknya berbicara dalam Bahasa Arab.

Di jam istirahat, remaja dengan isu kesehatan mental-Zazie Elsner (Michelle Barthel) sedang merapikan kertas gambarnya yang berantakan. Beberapa remaja perempuan lain sengaja menjatuhkannya. Tristan menawarkan bantuan dan memberi sebuah saran yang masuk akal.

Dalam kunjungan studi ke pabrik kertas, Hagen Lemmart (Daniel Friedl) sedang bersiap melempari pemilik pabrik dengan bom cat. Itu ditujukan sebagai balas dendam karena limbah pabrik mencemari lingkungan tempat keluarganya bertani. Tristan yang memahami niat Hagen segera memotong ceramah pemilik pabrik dengan agitasi dan membungkam semua siswa. Itu untuk mencegah Hagen mengambil tindakan gegabah.

We Are The Wave adalah kisah tentang tim pecundang ini. Tristan mengorganisir Rahim, Zasie, dan Hagen dalam sebuah gerakan lokal bernama The Wave. Lea ikut bergabung dan meninggalkan teman-temannya di lingkaran siswa populer. Mereka bereksperimen dengan berbagai metode protes. Dari vandalisme, sabotase toko pakaian dan pabrik kertas, lalu menyiarkannya secara daring. Apresiasi datang dari orang-orang dan mereka dengan cepat jadi simbol perlawanan anak muda di kota lain.

Ketika metode protes mereka semakin radikal, polisi mulai menaruh perhatian. Mereka jadi incaran dan segera memicu debat internal dalam The Wave.

Tanpa pernah menonton film atau membaca bukunya. Film ini tidak begitu mengecewakan. Plotnya mudah dipahami karena latar waktu yang cukup dekat. Nilai-nilai yang diyakini karakternya cukup kompleks untuk ukuran remaja.

Keyakinan itu dibentuk dari masalah sehari-sehari. Kebosanan, perundungan, penggusuran, rasisme, seksisme, kerusakan lingkungan, adalah hal yang saling terhubung dan punya peran membentuk kepribadian mereka. Ini membuat perlawanan The Wave jauh dari kesan biner yang melulu soal benar-salah, baik-buruk, dan akhirnya beresiko bikin film jadi membosankan.

Konflik yang dipilih dalam cerita juga tidak terlalu rumit. Alih-alih jadi kelompok remaja yang melawan negara dan mengejar perubahan dalam unit besar, The Wave lebih memilih unit kecil seperti Meppersfeld.

Tindakan-tindakan tokoh beserta konsekuensinya rasional. Mereka bukan ancaman ketika tindakannya vandalisme belaka, polisi menganggapnya kenakalan remaja biasa. Ceritanya jadi berbeda, kalau yang diusik adalah para pengembang properti dan politisi.  Mungkin, itu adalah usaha agar ceritanya tidak menyimpang terlalu jauh dari pakem realitas. Demi terhubung, dengan lebih banyak orang.

Tonton trailernya sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here