Psycho-Pass : Mungkin Masa Depan Manusia akan Seperti ini Setelah Covid-19

2
250
Psycho-Pass,
Gambar: Madman Anime (Youtube)

Bagaimana Psycho-Pass menggambarkan kemungkinan masa depan manusia setelah pandemi covid19?

Seorang pemuda, perkiraan usianya 20 tahun. Penampilannya rapi dan tampak berpendidikan. Sama sekali tidak ada ciri pelaku kejahatan darinya. Dia berjalan-jalan ditengah kota. Lalu, di keramaian-tangan pemuda itu ditarik oleh robot milik kepolisian. “Maaf! Saat ini tingkat Psychopass anda sedang tinggi! Anda berpotensi melakukan kejahatan ! Untuk sementara waktu, anda akan dikarantina di balai rehabilitasi terlebih dahulu!”. Kata robot itu.

Itu adalah adegan dalam seri anime yang masuk nominasi Seiun Award 2014 kategori Sci-Fi, Psycho-Pass. Anime yang pertama tayang di stasiun TV Fuji ini adalah garapan studio I.G Production, Jepang. Disutradarai Katsuyuki Motohiro dan ditulis oleh Gen Urobochi, Psycho-pass mendapat respon positif dari penonton dalam dan luar negeri.

Meski sudah tayang sejak 2012, ada tiga hal penting yang cukup menarik untuk dibahas mengenai dunia pasca covid. Pertama, determinisme biologis otak. Kedua, penyerahan otoritas pemerintahan kepada kecerdasan buatan (AI). Ketiga, negara pengawasan (Survelliance State).

Determinisme biologis otak

“Apakah otak yang mengendalikan kita? Ataukah kita yang mengendalikan otak kita ?”

Hampir disetiap episode dalam Psycho-Pass, kita melihat pihak kepolisian, memprediksi tingkat kejahatan target operasinya. Otak target dipindai menggunakan alat yang disebut Cymatic. Polisi mengukur seberapa besar niat targetnya melakukan kejahatan. Bagaimana sains melihat ini?

2011, J.D Hayner dalam penelitiannya menggunakan FMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) untuk memantau aktivitas otak beberapa orang. Sebelum dipantau, ada gambar dua tombol di hadapan mereka. Salah satunya harus dipilih. Lalu aktivitas pada dua bagian otak milik beberapa orang ini diamati. Hanya dengan itu, Hayner dan rekannya bisa memprediksi tombol mana yang orang-orang ini akan tekan. Dalam 7-10 detik sebelum mereka membuat keputusan.

Lalu bagaimana dengan otak milik para sosiopat dan psikopat yang konsep moralnya sangat lentur? Apakah sebelum niat jahat mereka muncul, otaknya akan lebih dulu bekerja?

Menurut Ryu Hasan (Pakar neurosains asal Surabaya) dalam thread twitternya, sosiopat dan psikopat sebenarnya mengalami malfungsi otak khususnya di bagian orbito frontal cortex. Orbito frontal cortex berfungsi dalam mengelola penalaran moral & altruisme, dua hal yang membentuk empati. Seorang sosiopat atau psikopat mampu mengabaikan perasaan dan hak orang lain. Karena itu, mereka mampu melakukan kejahatan berat seperti kekerasan dan pembunuhan tanpa merasa bersalah sama sekali.

Otoritas kecerdasan buatan & negara pengawasan

Dalam sebuah video berita yang dipublikasikan oleh DW Indonesia, sekelompok peneliti dari Cina & AS bekerjasama mengembangkan sebuah AI baru. AI tersebut dimaksudkan untuk membantu tenaga medis dalam mengambil keputusan.

Salah satu masalah yang dialami para petugas medis dalam melayani lonjakan pasien corona, adalah pengambilan keputusan. Pasien mana yang didahulukan saat fasilitas rumah sakit begitu terbatas.

Dengan bantuan kecerdasan buatan, dokter tidak perlu kebingungan menghadapi situasi: siapa yang paling berhak mengakses alat bantu pernapasan dengan jumlah terbatas? Pasien perempuan usia 70 tahun yang memilili suami dan cucu? Atau, pasien pria lajang usia 30 tahun?

Baca Juga: Koe No Katachi: Sebuah Usaha membicarakan Disabilitas, Perundungan, dan Penebusan Dosa

Kecerdasan buatan mampu memproses lebih banyak informasi tentang pasien dalam hitungan detik. Dari menerjemahkan sinyal otak, mengumpulkan data pasien, data rumah sakit, sampai data temuan labolatorium, kecerdasan buatan mampu memprediksi siapa yang baru terinfeksi, atau siapa yang beresiko tinggi menderita komplikasi parah akibat covid-19. Kecerdasan buatan menghitung peluang bertahan hidup setiap pasien untuk membuat keputusan, pasien mana yang harus dibantu terlebih dahulu.

Situasi ini mirip dengan realitas dalam Psycho-pass. Pengambilan keputusan diserahkan pada kecerdasan buatan. Kehidupan warga diatur oleh kecerdasan buatan bernama “Sybil”. Teknologi yang lebih memahami keadaan seorang dibanding dirinya sendiri. Karena itu, dia diberi kewenangan, menentukan berbagai aspek warga di tingkat individual. Pendidikan, kesehatan, hingga perlu tidaknya mendapatkan terapi psikologis. Begitulah konsep negara pengawasan (Surveillance State).

Hal tersebut mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Terutama setelah, pandemi Covid-19. Penulis buku Homo Deus, Yuval Noah Harari, mengungkapkan bahwa ketakutan warga pada penluaran Covid-19 yang tinggi bisa menjadi pemicu mereka untuk menyerahkan hak privasinya kepada Negara.

Warga semakin mengharapkan negara hadir dalam hidupnya untuk menangani Covid-19. Kebijakan-kebijakan represif seperti karantina, pengerahan polisi dan militer untuk mengendalikan warga, hingga pemantauan ketat yang memberangus hak privasi individu adalah harga demi menyelamatkan diri.

Masih menurut Harari, Negara Pengawasan yang diciptakan selama Covid-19 bisa berlanjut meski pandemi usai. Pemerintah bisa berdalih kalau pengawasan ketat harus dipertahankan demi mencegah krisis yang sama di masa depan. Tapi, ini semua hanya kemungkinan. Apakah dunia kita akan berubah seperti realitas dalam Psycho-Pass? Waktu yang akan menjawab.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here