Mengenal Stockholm Syndrome dalam Seri Money Heist (2017)

2
165
Money heist,
Gambar: Netflix (Youtube)

Stockholm Syndrome

Mónica Gaztambide adalah sandera. Sekretaris percetakan Bank Spanyol dalam seri Money Heist (2017). Kode namanya adalah Stockholm. Diambil dari nama fenomena psikologis yang benar-benar ada, Stockholm Syndrome.

El Professorotak perampokan melarang pembunuhan sebagai aturan pertama. Ini poin yang memikat bagi penonton. Bagaimana bisa, ada perampok yang begitu menghargai nyawa sanderanya?

Ada kemanusiaan yang tampil seiring episode berjalan. Para sandera diminta menyatakan keperluan pribadi (obat-obatan) yang diperlukan selama berada dalam gedung. Mereka dapat makanan yang layak, pakaian dan alat tidur. Hal yang jarang kita saksikan dalam film-film bertema perampokan.

Monica Gaztambide (Sekretaris Arturito) mencium Denver dalam brankas. Dia nyaman selama jadi sandera di sisi Denver. Respon yang tidak muncul begitu saja. Jauh sebelumnya, Denver intens berinteraksi dengan Monica.

Monica pernah berencana membunuh janinnya. Putus asa jadi tawanan, ditambah Arturito yang enggan bertanggung jawab. Dia ingin mengakhiri semuanya dengan minum pil aborsi. Salah satu pilihan terbaik menurutnya saat itu.

Denver yang bertugas mengantar obat, mencoba mencegah Monica. Ia berhasil. Namun, Berlin menemukan ponsel di selangkangan Monica. Harusnya, seluruh ponsel tahanan telah dikumpulkan. 

Berlin memerintahkan eksekusi Monica pada Denver. Karena tidak tega, Denver hanya menembak paha Monica untuk membohongi Berlin. Monica dibawa ke brankas. Denver merawat luka Monica, secara rutin membersihkan dan mengganti perbannya, membawa makanan dan minuman untuknya.

Baca juga: Psycho-Pass Mungkin Masa Depan Manusia akan Seperti ini Setelah Covid-19

Monica nyaman dengan perhatian yang diberikan Denver. Dia jatuh hati pada penculiknya. Manusia yang membahayakan nyawanya. Tidak hanya jatuh hati, Monicasecara konsensus bersenggama dengan Denver di dalam brankas. Apakah itu wajar?

47 tahun lalu, kasus serupa pernah terjadi. Ini adalah kisah nyata. Perampokan salah satu Bank di Swedia, Sveriges Kreditbank tahun 1973. Perampok Jan-Erik Olsson dan Clark Olofssoon lengkap dengan senjata menyandera para karyawan bank selama 5 hari.

Ketika korban berhasil dibebaskan, reaksi pertama mereka justru memeluk dan mencium para perampok. Secara emosional mereka jadi menyayangi dan membela penyanderanya. Salah satu sandera bernama Kristin jatuh cinta dengan salah satu perampok. Dia membatalkan pertunangan dengan pacarnya setelah di bebaskan.

Kejadian tersebut terjadi di Stockholm-Swedia. Istilah Sindrom Stockholm kemudian dikenalkan oleh Kriminolog cum Psikiater, Nils Bejerot yang saat itu membantu polisi menangani perampokan.

Singkatnya, Stockholm syndrom adalah respon psikologis. Dalam kondisi tertentu, para sandera menunjukkan tanda-tanda kesetiaan pada penyanderanya. Tidak peduli bahaya atau resikonya. Pertanyaan selanjutnya, kenapa itu bisa terjadi? 

Graham bersama rekan-rekannya, menjawabnya dalam sebuah laporan eksperimen. “Stockholm Syndrome” Reactions in Young Dating Women. Ia mengungkapkan terdapat empat kondisi dalam hubungan yang penuh kekerasan dan distorsi kognitif, muncul pada diri korban yang mengalami Stockholm Syndrome. 

Kondisi pertamaada ancaman terhadap keselamatan korban, baik secara fisik maupun psikologis yang dilakukan oleh pelaku. Kondisi keduapelaku mengancam korban untuk tidak melarikan diri atau pergi dari pelaku. Kondisi ketigapelaku melarang korban untuk berhubungan dengan orang lain di sekitarnya.

Kondisi terakhirpelaku menunjukkan kebaikan-kebaikan pada korban dalam bentuk apapun. Keempat kondisi tersebut mendukung berkembangnya Stockholm Syndrome dalam hubungan yang abusive. Hal ini jadi alasan, korban sulit melepaskan diri dari hubungan. Karena dia terus menerus melihat sisi baik dari perilaku pelaku, begitulah Monica dan Denver.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here