Tower of God (2020) Adalah Penanda Era Baru Anime

3
135
Tower of God,
Gambar: Crunchyroll Brasil (Youtube)
  • Peringatan. Tulisan ini mengandung spoiler. Tidak disarankan untuk anda yang belum menonton filmnya.

Crunchyroll membuat gebrakan dengan mengadaptasi Tower of God (2020) jadi serial anime. Jika anime umumnya mengambil materi dari manga atau Light novel yang populer beberapa tahun belakangan. Sumber materi Tower of God justru berasal dari Web Comic Series atau biasa disebut Manhwa.

Tower of God sendiri cukup populer, terutama di platform webtoon. Basis penggemarnya bisa dibilang cukup besar. Ini jadi salah satu faktor utama-seri adaptasi Tower of God menjadi sangat dinantikan.

Diproduksi oleh Telecom animation film. Studio yang memproduksi Lupin III, Orange, dan Baki. Serta di sutradarai oleh Takashi Sano Sensei. Pengalamannya menyutradarai Lupin III, dan Key Animator Neon Genesis Evangelion, adalah alasan lain untuk menaruh ekspektasi pada adaptasi anime ini.

Plot

Tower of God adalah kisah seorang anak lelaki bernama Bam (dalam versi animenya diganti menjadi Yoru, keduanya sama-sama memiliki arti “Malam”) yang terpisah dari sosok pelindungnya (Rachel). Ia mendapati dirinya, berada di sebuah dunia fantasi. Bertemu dengan sesosok monster humanoid misterius yang memberinya tantangan untuk menaiki sebuah menara. Di sanalah dia akan bertemu kembali dengan Rachel.

Bam menerima tantangan. Dalam perjalanan, dia bertemu orang-orang dengan tujuan sama-mendaki menara. Konon, siapapun yang dapat mencapai puncak menara-akan dikabulkan permintaannya.

Bam membentuk tim dengan orang yang dia temui sepanjang perjalanan. Khun-remaja tenang dengan kemampuan bertarung yang luar biasa, dan Rak- keturunan kadal pemburu yang bersemangat dan gila coklat. Bertiga, mereka menghadapi ujian menara. Melawan kompetitor lain hingga menghadapi penguji (ranker).

***

Episode awal menyajikan plot klise-anime shounen. Adu kekuatan, protagonis yang naif, mitra yang tenang dan keren, saga ujian, dan semacamnya. Namun, itu semua termaafkan. Perkembangan cerita menunjukkan kalau plotnya lebih kompleks. Bukan sekadar berlatih jadi lebih kuat lalu menang ala Dragon Ball Z.

Ada godaan untuk menyandingkan episode-episode awal Tower of God dengan saga ujian anime Hunter X Hunter. Ujian memang elemen dasar anime shounen. Tapi Hunter X Hunter berbeda. Yang diandalkan, bukan hanya kekuatan. Ada adu strategi dan model ujian yang lebih variatif. Tower of God, kurang lebih menggunakan formula yang nyaris sama ditambah keberuntungan.

Gaya animasi Tower of God tidak umum. Warna dibentuk seperti lukisan minyak dan kontras dengan tingkat kecerahan yang tinggi. Berbeda itu oke, sayang transisinya gambarnya tidak terlalu mulus. Terutama pada adegan-adegan presisi seperti pertarungan, atau kejar-kejaran. Animasinya jadi patah-patah dan cukup menganggu.

Hal menarik lain adalah pemilihan lagu opening dan ending. Penyanyinya adalah Boy Group terkenal asal Korea, Stray Kids. Tiap episode dibuka dengan TOP (dalam versi Jepang) lalu ditutup dengan SLUMP (dalam versi Jepang). Ini pilihan masuk akal, mengingat kreator Tower of God (SIU) berasal dari Korea. Hal ini bisa jadi menarik penggemar K-POP ke anime, begitupun sebaliknya-penggemar anime bisa jadi tertarik ke K-POP.

Baca juga: Mengenal Stockholm Syndrome dalam Seri Money Heist (2017)

Era Baru anime

Selama ini manga jadi material utama untuk adaptasi serial anime. Popularitas manga biasanya jadi jaminan kesuksesan ketika diadaptasi jadi serial anime. Pandangan pragmatis yang lumrah, mengingat biaya produksi satu episode anime saja sudah cukup besar yaitu 11 juta yen atau 1,32 milyar.

Di dekade 2010, ada satu lagi medium yang populer menjadi sumber adaptasi serial anime-light novel. Kemunculannya berbarengan dengan semakin populernya sub-genre isekai di kalangan pecinta anime. kita bisa melihat judul-judul anime populer yang merupakan adaptasi dari light novel seperti Swort Art Online, Oregairu, Monogatari series, Goblin Slayer, No Game No Life, dan masih banyak lagi.

Fenomena adaptasi light novel sebenarnya bukan hal baru. Ada beberapa anime populer yang diadaptasi dari light novel pada medio 2000. Sebut saja Baccano, Haruhi Suzumiya, dan Fullmetal Panic.

Namun, keberadaan manga dan light novel sebagai sumber adaptasi anime punya satu kekurangan-kekayaan budaya. Anime sendiri sering digunakan untuk menyebut animasi garapan Jepang. Sehingga, kata Anime terasosiasi dengan kata Jepang.

Aspek-aspek budaya lain sulit ditemukan secara detail jika penulis/kreatornya itu sendiri masih 100% Jepang. Berbeda, jika kreator dari medium tersebut (baik itu manga atau light novel) bukan berasal dari Jepang. Hal ini bisa membuka pintu bagi keragaman tema dan cara penyajian, entah dari segi cerita, historis, adegan khas, dll. 

Inilah yang ditawarkan oleh web comic (atau Webtoon). Membuka platformnya secara luas, sehingga berbagai kalangan dari latar belakang negara dan budaya dapat mendistribusi karyanya dan mengakses karya lain di saat bersamaan. Itulah sebabnya, cerita-cerita webtoon memiliki tema yang lebih beragam.

Langkah adaptasi Tower of God dari webtoon, akan disusul judul-judul besar lain. Noblesse dan The God of Highschool akan diadaptasi musim panas mendatang. Ini adalah era baru anime. Berbeda dengan manga dan light novel sebagai materi dasar, webtoon menjanjikan materi yang lebih beragam dari segi budaya.

Tonton trailernya sekarang.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here