Menonton Hereditary (2018) Sukses Bikin Saya Depresi

3
128
Hereditary,
Gambar: A24 (Youtube)
  • Peringatan. Tulisan ini mengandung spoiler. Tidak disarankan untuk anda yang belum menonton filmnya.

Hereditary (2018) adalah film horror garapan Ari Aster. Sutradara yang nyambi jadi penulis naskah. Ini adalah film perdananya di layar lebar. Sebelumnya, Aster hanya menyutradarai film pendek. Menontonnya, memicu perasaan depresi saya. Mungkin kalian juga.

Hereditary berlatar di South Lake City, Utah, Amerika. Keluarga Annie Graham (Toni Collette) merasakan sejumlah kejanggalan dalam kehidupan keluarganya sejak sang ibu meninggal. Ditampilkan dalam suasana kelam, lewat pencahayaan minim dan remang sesekali sejak permulaan film.

Kejanggalan dimulai, ketika Annie melihat bayangan ibunya di pojok ruangan saat lampu padam. Uniknya, musik latar yang mengiringi adegan bukan nada lengking naik turun tipikal film horor. Musiknya, justru datar dan bikin saya lengah. Saya yang penakut, terpaksa melihat langsung penampakan sang ibu.

Film jadi makin seram, karena akting para pemeran tidak setengah-setengah. Eskpresinya kuat dan maksimal. Saya bisa merasakan emosi setiap karakter saat hal mengerikan terjadi.

Ari Aster juga tidak ragu menampilkan gambar yang menganggu (disturbing picture) di beberapa frame. Manusia telanjang bulat, darah yang menyembur, hingga potongan kepala. Itu membuat filmnya justru terlihay gory.

Transisi adegan yang lesat, bikin saya tak sempat nafas. Si bungsu-Charlie Graham (Milly Shapiro) tertabrak mobil berkecepatan tinggi dan menghantam tiang listrik, membuat kepalanya terpenggal. Peter Graham (Alex Wolff) pelaku tabrak lari, ternyata kakak Charlie.

Baca juga: Sekilas tentang Nth Room, Kasus Eksploitasi Seksual yang Menginspirasi Extracurricular (2020)

Peter mengentikan mobilnya setelah mendengar suara benturan. Saya tertekan, menyaksikan Charlie kehilangan suara. Tak menoleh kebelakang, Peter melanjutkan perjalanan menuju rumah. Tanpa tahu, kalau adiknya tewas kehilangan kepala. Tertabrak mobil miliknya.

Siang dan malam nyaris tak ada bedanya dalam film. Bahkan, tak perlu kesan gelap (malam) untuk menyajikan teror. Frame yang menunjukkan potongan kepala Charlie misalnya, terjadi di siang hari. Menunjukkan kerusakan dan identitas dari kepala yang terpenggal, .

Annie histeris mendapati anak bungsunya tewas. Dia menangis dalam kamar yang remang. Berpencahayaan kuning, dan terfokus pada ekspresi Annie. Pencahayaan berwarna kuning sepertinya digunakan untuk menonjolkan salah satu elemen, seperti adegan Annie. Saat adegan di ruang makan, elemen itu adalah meja makan.

Aster juga menggunakan elemen cuaca untuk menguatkan kesan. Ambil contoh saat Annie meratapi nasib putranya dalam kamar. Hujan sedang deras, cahaya petir beberapa kilasan menyusup lewat ventilasi dan jendela kamar. Jika suasana macam ini biasanya digunakan untuk kepentingan jumpscare. Aster justru menggunakannya untuk menggambarkan perasaan Annie yang hancur.

Toni Collette, yang memainkan pemeran Annie-membuat persiapan teknis Aster tak sia-sia. Ekspresinya tidak main-main. Sukses memindahkan perasaan depresi seorang ibu yang kehilangan anaknya ke dalam kepala saya. Alex Wolff menyiksa saya dengan cara yang sama.

Akting Gabriel Byrne tidak bisa dibahas terlalu banyak. Porsi perannya dalam film sebagai Steve Graham, ayah Annie memang sedikit. Keberadaanya sebagai karakter tenang, seperti ditujukan untuk jadi penengah. Melengkapi komposisi keluarga yang sangat dekat dengan kegilaan.

Jumpscare dan musik latar yang tipikal memang bukan formula utama dalam film ini. Tapi bukan berarti tak ada suara nyaring. Karena itu, musik jadi elemen yang saya soroti.

Demi mengatur ritme ketegangan, nada monoton digunakan secara konsisten untuk membuat kita lengah. Suara nyaring, selain digunakan untuk menciptakan kewaspadaan. Juga merawat teror yang saya rasakan setelah dibuat lengah.

“Hereditary” yang berarti warisan, sepanjang tayang bikin saya bertanya-tanya. Warisan macam apa yang akan diterima keluarga Annie. Semua itu terungkap di akhir cerita. Seperti yang selalu terjadi dalam setiap produk sinema.

Tonton trailernya sekarang.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here