All the Bright Places (2020): Romansa Remaja Berbalut Isu Kesehatan Mental

4
376
All The Bright Places,
Gambar: Netflix (Youtube)
  • Peringatan. Tulisan ini mengandung spoiler.Tidak disarankan untuk ada yang belum menonton filmnya.

All The Bright Places (Trivia)

All The Bright Places didistribusikan oleh Netflix. Diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Jennifer Niven (2015). FilmĀ romansa remaja ini disutradarai oleh Breet Haley, dan diproduksi oleh tiga perusahaan. Echo Lake Entertainment, Mazur Caplan Company, serta Demarest Media.

“Kau tahu kan? mereka menganggapmu aneh?”

“Mungkin bahasa yang tepat adalah berbeda”

“Kau berantakan! Mereka tak menyukai orang berantakan!

Itu karena mereka suka memasukkan yang berbeda ke kotak. mereka ingin kita seperti keinginan mereka

Di atas adalah penggalan dialog filmnya. Violet Markey (Elle Fanning), adalah gadis populer di sekolah yang menderita karena depresi. Theodore Finch (Justin Smith), adalah bipolar yang dapat label Psycho Freak dari siswa lain.

Mereka terhubung karena usaha Violet untuk bunuh diri. Finch mencegah Violet melompat dari jembatan. Tempat kakaknya meninggal dalam kecelakaan. 

Hubungan mereka berlanjut ketika berada dalam kelompok belajar yang sama. Untuk tugas akhir bahasa Inggris, menulis essai tentang tempat-tempat paling berkesan di Indiana. Cara All The Bright Places membicarakan kesehatan mental, menurut saya cukup unik.

Ketimbang menjadikan para penderita sebagai protagonis pesakitan. Karakternya didesain sekuat mungkin. Bahkan, jadi penolong bagi sesama.

Finch, sehari-hari harus menghadapi siksaan sebagai bipolar. Tapi, pada satu titik, dia tergerak menolong Violet menghadapi depresi. Dia juga membantu Violet mengatasi trauma pasca kecelekaan mobil bersama sang kakak.

Kekuatan Finch digambarkan melalui caranya menjaga emosi tetap stabil. Di tengah mood yang bergejolak. Usaha Finch agar tidak terseret dalam depresi Violet saat memberi bantuan, membuat ceritanya jadi lebih manusiawi.

Pengarang cerita sadar betul kalau tidak ada tokoh yang bisa sempurna, bahkan dalam fiksi. Finch bukan pahlawan super. Niven menaruh batas yang realistis untuk karakter Finch. Lihat, saat dia tumbang ketika cerita mendekati klimaks. Setelah menahan diri dalam waktu yang lama.

Rumitnya kehidupan penderita gangguan mental

You can touch me, i am in another universe” ~ Finch

Tangguh sekaligus aneh adalah cara yang tepat untuk menggambarkan karakter Finch. Tapi desain karakter semacam itu sudah ditimbang dengan matang oleh pengarang. Melalui dialog Finch-Violet, kita tahu kalau ada alasan masuk akal yang menggerakan tindakan dan perilaku Finch. Meski, sekuensinya belum bisa dibilang sempurna.

Alasan Finch, sesekali menenggelamkan diri di danau. Atau menempel ratusan sticky notes berisi kutipan di dinding kamarnya. Dijelaskan sebagai cara Finch mengatasi fase dark mood. Yang seringkali, membuatnya hilang kesadaran.

Kelakuan konselor sekolah yang sok tahu soal keadaan Finch. Jadi alasannya menghardik Violet. “Kau takkan mengerti!” ketika sedang dark mood. Film arahan Breet Haley ini, sedang mendikte. Agar orang-orang (termasuk para profesional) tidak merasa paling tahu dan arogan saat mengomentari kehidupan penderita gangguan mental.

Karakter Finch yang kompleks, menggambarkan pengalaman emosional yang dalam dan sulit dipahami. Pengalaman yang hanya mampu dipahami oleh segelintir orang. Memunculkan premis, kalau tidak semua emosi bersifat sederhana dan universal. 

Baca juga: Menonton Hereditary (2018) Sukses Bikin Saya Depresi

Menghibur dan menyentuh

Sinematografi All The Bright Places ditunjang oleh latar. Tempat-tempat indah seperti danau dan hamparan ladang gandum yang ada di Indiana adalah elemen penting. Untuk memberi kesan soal relasi Finch & Violet.

Musik tema yang melatari cerita cukup elok. Keegan Dewit selaku komposer berhasil menghadirkan nada-nada yang memicu kesedihan dan menyejukkan di saat bersamaan. Tapi, tidak sentimental.

Akting Elle Fanning berhasil menghidupkan karakter si pemurung Violet. Dan Justin Smith, memerankan karakter Finch dengan penuh penghayatan. Membuat saya lupa kesan awal, soal pengerjaan yang tergesa-gesa.

Hingga klimaks, saya tidak hanya terhubung dengan hal-hal yang harmonis. Saya mampu merasakan luka yang sama dari penderitaan, meski kadarnya berbeda. Film ini mengajari saya untuk mencitai diri sendiri. Seperti kata penulisnya.

“It’s not your fault. And sory wastes times. You have to live your life like you’ll never be sorry. It’s easier just to do the right from the start so there’s nothing to apologize for”

-Jennifer Niven, All The Bright Places

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here