8 Mile (2002): Dari Rasisme ke Jabat Tangan

1
114
8 mile,
Gambar: Movieclips (Youtube)

8 Mile adalah film musikal dan semi-biografi di saat bersamaan. Karenanya, mengambil tokoh asli sebagai pemeran utama adalah pilihan yang tepat sekaligus murah. Eminem tidak perlu diajari caranya jadi Eminem.

Latar

Nama 8 Mile diambil dari 8 Mile Road. Jalan yang membentang di sepanjang sisi utara Detroit. Sejak abad 20, jalan ini jadi garis demarkasi. Antara pemukiman kulit putih penuh orang kaya dan pemukiman Afro-Amerika yang kebanyakan adalah orang miskin.

Eminem memang tumbuh di sana. Tapi, bukan di tempat orang-orang kulit putih. Keluarga Eminem tidak bisa disebut kaya. Mereka tinggal di lingkungan yang hanya ada empat keluarga berkulit putih.  

Baca juga: Tall Girl (2019) Bagus, Tapi Biasa Saja

Masa muda Eminem-seperti diceritakan dalam rolling stone, dihabiskan sebagai juru masak dengan upah 5,50 USD/jam. Dia putus sekolah sewaktu usianya masih 15 tahun. Separuh gajinya harus diserahkan ke sang ibu, jika tak ingin ditendang dari rumah.

Hip-hoplah yang menyelamatkan hidupnya. Itu terjadi di tahun 1996. Ketika dia bersama temannya, Proof, merilis album pertamanya infinite di salah satu label lokal. Tak lama setelah mereka datang ke Hip-Hop Shop di 7 Mile, salah satu lokasi yang disebut dalam film 8 Mile.

Sinematik

8 Mile tayang di bioskop, tahun 2002. Dengan tone warna yang khas dari film dekade 90an akhir. Setelah tayang di Netflix, repro menyebabkan sedikit perubahan pada tone warnanya.

Nuansa kelam dan depresif adalah suasana yang saya rasakan. Pencahayaan minim dengan eksposur kuat memang mendominasi film. Opsi pencahayaan semacam saya temukan juga dalam film bernuansa distopia seperti Robocop dan Batman.

Dalam 8 Mile, mungkin itu digunakan untuk menggambarkan lingkungan kelas pekerja Detroit. Nuansa yang mencerminkan beban hidup mereka. Atau terpengaruh oleh genre Hanson sebelum 8 Mile, yang berkutat pada drama kriminal dan thriller psikologis.  

Musik

Saya tidak tahu apakah ini tolak ukur yang tepat atau tidak. Tapi, penjualan album orisinal yang mencapai 702.000 kopi sepertinya bisa jadi dasar untuk menyebut tata musik film ini bagus. Apalagi, lebih dari separuh penghargaan yang diraih 8 Mile berhubungan dengan musik. Bagi awam seperti saya, itu capaian yang mengesankan.

Plot dan latar

Nyaris seluruh cerita dalam 8 Mile didasarkan pada kehidupan Eminem sebelum terkenal. Nama asli Eminem adalah Marshall Bruce Mathers III. Dalam film, dia berperan sebagai Jimmy Smith Jr. Anak muda yang di awal adegan kena demam panggung saat berhadapan dengan Papa Doc (Anthony Mackie).

Itu adalah awal yang bagus. Kita bisa melihat krisisnya dengan jelas sejak cerita dimulai. Jimmy yang kulit putih, harus berhadapan dengan rasa cemasnya. Berusaha diterima dalam lingkungan yang menempatkannya dalam posisi minoritas.

Hip-hop dan rasisme

Curtis Lee Hanson yang bertindak sebagai pengarah dan produser film ini mengemas isu rasisme dengan sudut pandang yang tidak lazim. Membicarakannya lewat hal-hal ironis. Dengan hip-hop sebagai sarana cerita.

Musik yang semangat akarnya adalah kesetaraan dan perlawanan terhadap segregasi warna kulit. Rupanya jadi tempat yang subur bagi tindakan serupa. Lihat bagaimana Jimmy dikeroyok dan dicela oleh para kru Free World karena warna kulitnya di beberapa adegan.  

Hanson sepertinya ingin bilang, kalau rasisme tidak sesederhana pertentangan kulit hitam dan kulit putih. Jauh lebih besar, rasisme adalah kepicikan cara berpikir. Atau, mungkin Hanson ingin menunjukkan bagaimana Hip-hop semakin jauh dari semangat akarnya.

Sayang, ada konteks yang lepas jika memang benar itu tujuan Hanson. Hip-hop sangat dekat dengan gagasan soal kebebasan bicara tentang apapun dalam berbagai bentuk. Batas ujaran rasanya sulit diterapkan, semisal dalam konteks freestyle rap battle. Namun, ini hanya berlaku dalam konteks hip-hop.

Membicarakannya dalam konteks Amerika lain lagi. Sulit melupakan sejarah panjang opresi dan ekslusi terhadap keturunan Afro-Amerika dan kulit berwarna. Di Amerika, prasangka lingkungan ke karakter Jimmy di awal film adalah hal yang wajar.

Toh, prasangka semacam itu tidak bertahan lama. Setelah Jimmy alias Rabbit manggung dengan performa bagus dan lirik yang releate. Para penonton di Shelter bisa melepaskan bias dan berbalik memberi dukungan. Free World yang antagonis itu kalah, karena solidaritas penonton terhadap Jimmy.

Dari BLM hingga Papua

Saya tidak tahu apakah 18 tahun setelah 8 Mile diproduksi, tingkat sentimen warna kulit di Amerika masih sama. Besarnya solidaritas warga atas kematian George Floyd yang menciptakan kerusuhan, bisa jadi bukti kalau ada perubahan. Tapi, fakta bahwa Floyd dibunuh oleh polisi berkulit putih dan suburnya gerakan supremasi ala Nazi. Adalah bukti kalau fasisme dan puritanisme tak pernah mati.

Apa yang dibicarakan dalam 8 Mile memang universal sih. Bigot yang selalu memandang rendah kelompok lain selalu ada di berbagai tempat. Tak usah jauh-jauh, di Indonesia kurang jelas apa tindakan negara yang opresif ke Orang Asli Papua? Kurang esklusi apa kelakuan mayoritas pendukung NKRI harga mati itu ke teman-teman Papua? Atau dalam skala yang lebih luas, ke orang-orang timur lainnya.

Cerdas memilih Eminem

Pilihan Hanson mengangkat kehidupan Eminem sebagai materi cerita adalah hal yang cerdas. Siapa yang tidak penasaran dengan selebriti anomali di pasar hip-hop? Yang rekamannya diperkirakan terjual lebih 220 juta kopi di tahun 2000.

Dalam kalkulasi agitasi, bayangkan berapa banyak orang yang bisa dipengaruhi untuk membicarakan isu dalam filmnya. Untuk kalkulasi pasar, bayangkan berapa banyak keuntungan yang bisa dieksploitasi dari penggemar hip-hop.

Jabat tangan

Selebihnya, film ini adalah drama tentang ambisi, kemiskinan sistematis, dan balas dendam. Juga, soal konflik keluarga dan persahabatan dengan romansa yang bergairah sebagai bumbunya. Tapi, menurut Vice ini adalah film tentang jabat tangan.

Jabat tangan memang tindakan dengan banyak tafsir. Ada banyak narasi besar yang bisa dimaksudkan lewat tindakan kecil macam jabat tangan. Persahabatan, kesepakatan, diplomasi, perkenalan, perdamaian. Film 8 Mile sendiri, ditutup dengan jabat tangan antara Jimmy dan rekan-rekannya. Masalah minoritas selesai, filmpun berakhir.

Tonton trailernya sekarang.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here