Birds Of Prey (2020) dan Isu Emansipasi yang Setengah Hati

2
102
Birds of Prey,
Gambar: Warner Bros (Youtube)

Birds of Prey adalah film yang disutradarai oleh Cathy Yan, dengan judul asli Birds of Prey: And the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn.

Birds of Prey mengangkat isu emansipasi. Isu terkini memang harus diangkat untuk menyajikan karya bermutu. Joker misalnya, sukses membuat publik membicarakan soal kesehatan mental. 

Plot

Meski banyak musuh, Joker memang selalu melindungi Harley. Namun, setelah putus, Harley sendirian. Di situlah kesan ketidakberdayaannya sebagai perempuan diperlihatkan. Seolah tanpa Mr. J (sebutan untuk Joker), Harley Quinn bukan siapa-siapa.

Orang-orang tidak melihat Harley Quinn sebagai dirinya, tapi pacar Joker. Keberadaanya dianggap dependen dengan sang pacar. Membuat karakter utama femme fatale kesayangan kita itu, mirip ibu-ibu-ibu rumah tangga yang dipanggil menggunakan nama suaminya.

Sewaktu Black Mask, membuat sayembara untuk memburu gadis muda bernama Cassandra Cain. Para bandit Gotham kewalahan mencarinya. Tapi, Harley menemukannya.

Cassandra Cain (Ella Jay Basco), adalah remaja broken home. Dia mencuri berlian yang diincar oleh Black Mask. Lalu menjadi buronan bersama Harley Quinn.

Selagi jadi buron, mereka bertemu dengan Huntress (Mary Elizabeth Winstead) dan Black Canary (Jurnee Smollett-Bell). Mereka tokoh femme fatale lain yang jadi kuat karena pengalaman kelam. Harus diakui, ini memang DC banget.

Harley, Huntress, dan Black Canary menamai diri mereka, Birds. Nama tersebut berangkat dari anggapan bahwa keberadaan mereka hanyalah sebagai burung penghibur. Kecil dan tidak berdaya. Mungkin dari situ, muasal nama Birds of Prey. Meski di komiknya, tidak persis begitu.

Baca juga: Dari Rasisme ke Jabat Tangan dalam 8 Mile (2002)

Ulasan

Meski begitu, eksekusi isu emansipasinya tidak sesuai harapan. Membicarakan emansipasi lewat konflik Harley Quinn (Margot Robbie) vs Black Mask (Ewan McGregor). Birds of Prey bercerita tentang kelompok perempuan yang menghadapi para penjahat dari dunia lelaki.

Mungkin emansipasinya dibicarakan lewat kejahatan yang tak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Kaum perempuan juga bisa kalau cuma urusan jahat-menjahati. Harley Quinn adalah karakter femme fatale. Dia imut, lucu, dan suka bikin onar.

Film ini mengeksplorasi kekuatan sekaligus kelemahannya. Birds of Prey menunjukkan kemampuan Harley menganalisis orang lain. Menggunakannya untuk berbagai keperluan seperti membujuk, negosiasi, atau keluar dari situasi sulit. 

Selain para perempuan yang jadi penjahat. Kesetaraan yang harusnya jadi semangat utama dalam film ini nyaris tidak kelihatan. Rasanya, dalam durasi 1 jam 49 menit film ini hanya menyajikan ketidakberdayaan Harley setelah putus dengan Joker.

Tindakan Harley yang mestinya jadi simbol politis, jadi terlihat seperti usaha merilis stress pasca putus cinta. Black Mask mengejar Harley semata-mata ingin balas dendam. Atas masalah yang selama ini dia timbulkan.

Sinematografi

Sinematografi film ini lebih berwarna dari garapan DC yang lain. Meski nuansa dari semesta Suicide Squad belum bisa hilang karena tone dan keberadaan Harley Quinn.

Backstory yang dituturkan dari sudut pandang beberapa karakter sejujurnya bikin saya merasa tak nyaman. Mungkin karena tidak releate sehingga saya sulit terbiasa.

Saya tertolong berkat kemasan komedinya yang cukup menghibur. Mengobati kekecewaan saya, dan mungkin fans lain atas absennya Joker di film ini.

Tonton trailernya sekarang.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here