Capharnaum (2018) dan Anak-anak dalam Neraka Pengasuhan

0
89
Capharnaum,
Gambar: Sony Picture Classic (Youtube)

Capharnaum

Capharnaum mendapat skor 90% di rotten tomatoes, 8,4 bintang di IMBD. Penghakiman para kritikus ke film ini jelas bukan keputusan yang tidak disengaja.

Capharnaum yang berarti ‘kekacauan’, sukses menyajikan neraka ke hadapan saya. Kita tidak sedang membicarakan tentang neraka mistik. Yang sering dipakai dalam ceramah murahan para tukang khotbah di surau-surau usang. Bukan pula gambaran neraka dalam CGI mewah film-film Holywood.

Plot

“Aku ingin orang dewasa mendengarkanku, … Pesan ini untuk orang dewasa yang tidak mampu membesarkan anak-anaknya. Apa yang akan mereka ingat? Dari kekerasan, penghinaan, atau pemukulan? Rantai, pipa, atau sabuk? Kata termanis yang mereka berikan padaku adalah, ‘Bajingan, sampah!’. Hidup adalah masalah besar. Tidak lebih berharga dari sepatuku.”

Eksploitasi anak di kawasan pemukiman suburban Lebanon, pengasuhan keluarga yang brutal, serta kondisi kehidupan orang tua berstatus imigran illegal. Ketiga formula itu menciptakan sebuah kisah tentang kehidupan yang sangat kejam nan bengis bak neraka.

Memaksa saya mempertanyakan ulang kehidupan. Meresapinya dari sudut pandang para tokoh utama. Capharnaum adalah kisah tentang Zein (Zain Al Rafeea). Bocah 12 tahun yang berjuang melindungi adik perempuannya Sahar (Cedra Izam). Orang tuanya yang biadab hendak menjual Sahar kepada seorang pria hidung belang.

Adegan dimana ibu Zein, memukulinya kala melindungi Sahar. Atau jawaban Ayah Zein (Fadi Yousef) yang playing victim ketika di cecar berbagai pertanyaan hakim. Benar-benar membuat saya kesal pada kedua orang tuanya.

Di saat yang sama, saya berempati pada Zein. Bagaimana rasanya tumbuh bersama orang tua bedebah yang alih-alih membesarkan anak. Malah jadi penindas bagi si anak?

Baca juga: The Midnight Gospel (2020): Mendengar Podcast dalam Animasi

Bukankah orang tua merupakan benteng pelindung terakhir anak dari kejamnya dunia? Bagaimana jika yang seharusnya pelindung justru jadi predator bagi yang dilindungi? Saya jadi ingat slogan; banyak anak, banyak rejeki. Atau seruan tukang khotbah yang menganjurkan nikah muda.

Kedua seruan itu harus dipertanyakan ulang. Film ini sangat di anjurkan bagi mereka yang akan menikah. Atau sedang menyiapkan diri sebagai calon orang tua. Sebuah peringatan, bagi yang ngebet berkembang biak tapi tak siap menjaga.

Di sisi lain, Capharnaum menunjukkan seorang ibu muda imigran asal Euthopia (Yordanos Shiferaw) yang berjuang mati-matian menghidupi anaknya. Perjuangan mencekam di bawah bayang-bayang deportasi.

Buruknya birokrasi Libanon, bahkan bisa memisahkan seorang ibu dari anaknya. Itulah premis yang saya tangkap dari tokoh Rahil, sang Ibu muda ini. Sebuah gambaran tentang realitas yang dihadapi para pekerja imigran di Lebanon.

Kualitas film

Nadine Labaki selaku sutradara sangat serius menghadirkan detail-detail adegan. Saya bisa merasakan neraka di pemukiman Zein. Kualitas para pemeran adalah sumbangan besar yang menciptakan detail. Mengaburkan yang nyata, dan yang fiksi.

Capharnaum, dapat di sejajarkan dengan film-film pendahulunya seperti Turltes Can Fly (2004), First They Killed My Father (2007), atau film animasi prancis Ma vie de Courgette (2016).

Sinematografi

Dalam hal Sinematografi, Capharnaum sekelas dengan The Dark Knight garapan Nolan. Semuanya berkat kolaborasi antara sutradara hebat dan akting yang memikat. Cukup pantas, jika film ini mendapatkan standing ovation selama 15 menit dalam pemutarannya di Festival Film Channes 2018.

Totalitas Nadine Labaki dan timnya produksinya patut diacungi jempol. Sebab, mereka melakukan riset yang mendalam di penampungan imigran, penjara anak, serta kawasan suburban. Para pemeran bukan selebriti yang lalu lalang di dunia hiburan. Tapi, penduduk setempat yang tinggal di lokasi riset.

Zain misalnya, aktor pemeran dengan nama yang sama dengan tokohnya. Lahir di Syiria, tumbuh di kawasan kumuh Beirut. Memberinya keuntungan dalam peran, lengkap dengan detail ekspresi tanpa kesulitan yang berarti. Yordanus Shiferaw, pemeran tokoh Rahil. Ternyata imigran asli yang berasal dari Etiopia. 

Musik latar

Musik latarnya sangat selaras dengan cerita film. Khaled Mouzanar selaku komposer berhasil mengaduk emosi saya. Nada-nada yang menyayat, menciptakan suasana miris dan suram. Instrumen musik tradisional yang digunakan, menghadirkan timur tengah dalam iramanya.

*

Film ini cocok untuk kamu yang mencari kengerian neraka dalam bentuk lain. Tentu saja, jangan lupakan. Capharnaum adalah tanda bahaya. Bagi kamu yang ingin berkembang biak, tapi belum siap jadi orang tua.

Tonton trailernya sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here