1980 dan Gwangju, Supir Taksi di Sempalan Sejarah

2
78
1980
Gambar: chinatimes.com

1980, Gwangju di masa genting

1980 adalah tahun yang penting bagi Korea Selatan. Sejarah besar sedang bergerak. Pemberontakan Gwangju.

1980, adalah masa genting. 18 Mei hingga 27 Juni, Gwangju jadi junta militer dan lautan darah. 2000 orang meninggal. Mahasiswa Universitas Chonnam yang ikut reli menentang darurat militer ditembak, dibunuh, diperkosa, dan dipukuli oleh pasukan pemerintah.

Warga marah dan angkat senjata, merampok alutista dari gudang-gudang persediaan dan kantor kepolisian. Di latar sejarah inilah film A Taxi Driver (2017) berpusat. Pernah masuk nominasi Academy Award untuk kategori film berbahasa asing. Pendapatannya, di urutan ke 11 terbanyak sepanjang sejarah film Korea Selatan. Urutan kedua di tahun 2017.

Plot A Taxi Driver

A Taxi Driver hanya mengambil sempalan sejarah. Kecil, tapi penting perannya dalam mengubah tatanan. Kim Man-seob (Song Kang-ho) adalah duda yang bekerja sebagai sopir taksi di Seoul. Suatu hari, dia menguping percakapan telepon sopir taksi lain.

Isinya adalah pembicaraan tentang klien asing yang menyewa untuk perjalanan senilai 100.000 won (81 USD/ 1.153.683 IDR untuk kurs saat ini).  Klien itu adalah Jürgen Hinzpeter/Peter (Thomas Kretschmann ). Wartawan koresponden ARD-NDR. TV publik Jerman yang bermarkas di Jepang. Peter ingin meliput pemberontakan Gwangju.

Tugas untuk pengemudi taksi yang disewa  terdengar sederhana. Meninggalkan Gwangju dan kembali ke Seoul sebelum jam malam. Karena itu, Man-seob tanpa pikir panjang mencuri klien rekannya. Menemui si wartawan sebagai Kim Sa-Bok.

Pemberontakan Gwangju dan A Taxi Driver

Pemberontakan Gwangju ( Korea :  광주 민주화 항쟁 ; Hanja :  光州民主化抗爭 ) dipicu sejumlah gerakan demokrasi mahasiswa yang tersebar di beberapa wilayah. Gelombang protes meledak sejak terbunuhnya Presiden Park Chung-hee pada 26 Oktober 1979.

Matinya sang diktator  mengosongkan kursi kekuasaan. Situasi politik jadi labil hingga memasuki 1980. Presiden sementara (Choi Kyu-hah) tak punya posisi tawar dalam pemerintahan. Dua bulan kemudian, jenderal besar Angkatan Darat Korea Selatan (Chun Doo-hwan) melakukan kudeta. Hukum Darurat Militer diberlakukan.

Ketika semester baru dimulai Maret 1980, para profesor dan mahasiswa meninggalkan kampus. Serikat mahasiswa dibentuk, demonstrasi nasional diorganisir untuk reformasi. Tuntutannya adalah mengakhiri hukum darurat militer, demokratisasi sistem, penegakan HAM, naikkan upah minimum dan kebebasan pers.

Baca juga: A Taxi Driver (2017): dari Anti ke Empati

Kegiatan ini memuncak dalam demonstrasi anti-darurat militer di Stasiun Seoul, 15 Mei 1980. 100.000 pelajar dan warga ikut serta. Di Gwangju, demonstrasi diikuti lebih dari 10.000 orang.

Dalam film A Taxi Driver, Peter si wartawan harus menyamar menjadi pastor untuk mengantongi izin masuk ke Korea Selatan. Hukum darurat militer memang menyebabkan pembatasan ketat. Sensor pers dilakukan, dan wartawan asing dilarang meliput peristiwa politik seperti di Gwangju.

Semua tuntutan dari gerakan demokrasi di Korea Selatan saling terhubung. Pembatasan pers adalah gejala demokrasi yang sakit. Ini berimbas pada penegakan HAM yang melingkupi kenaikan upah.

Karena itu, keberhasilan Peter meliput peristiwa Gwangju, adalah momen penting bagi rakyat Korea Selatan. Mereka harus berterima kasih pada seorang supir taksi bernama  Kim Sa-Bok dan para warga yang bersolidaritas.

Antara film dan peristiwa sebenarnya

Film ini menerima respon positif dari berbagai pihak. Tapi tetap saja, ada beberapa adegan yang menyimpang dari fakta sejarah.

Dalam film, Kim Sa-bok adalah nama samaran. Faktanya, nama asli supir taksi memang Kim Sa-bok. Hanya itu informasi yang Peter asli miliki tentang si supir taksi. Karena itu, nama Kim Man-seob berikut kehidupan pribadinya dalam adalah rekaan Jang Hoon si sutradara.

A Taxi Driver juga menggambarkan Kim Sa-bok sebagai warga yang apolitis. Nyatanya, Kim Sa-bok menunjukkan minat dan dukungan pada gerakan protes. Peter, justru memahami gambaran awal situasi Gwangju dari Sa-bok.

Karakter Kim Sa-bok di film berbicara bahasa inggris dengan patah-patah. Sebaliknya, Kim Sa-bok yang asli sangat fasih berbahasa inggris.

Aksi kejar-kejaran militer dan Kim Sa-bok mungkin adegan terbaik dalam film ini. Solidaritas dari sesama supir taksi, demi meloloskan Sa-bok dan Peter ke Seoul adalah bumbu dengan pesan yang dalam. Hanya saja, adegan semacam itu tidak ada dalam kejadian nyatanya.

Memang banyak akurasi adegan yang melenceng akibat dramatisasi. Namun, itu bukan halangan bagi suksesnya film ini di pasaran. Pada titik yang lain, A Taxi Driver berhasil menyajikan ke hadapan kita. Nuansa dari sejarah gelap Korea Selatan.

Tapi begitulah sejarah. Meski traumatik, tetap harus dihadapi. Karena, mereka yang tidak belajar sejarah, ditakdirkan untuk mengulanginya. Begitu kata George Santayana.   

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here