Mary Poppins Returns (2018) dan Selubung Sosialisme

1
210
Mary Poppins Returns,
Gambar: Walt Disney Studios (Youtube)

Mary Poppins Returns

Mary Poppins Returns bukan tipikal film fantasi anak-anak produksi Disney. Dengan raja penyihir jahat, perundung, atau bajak laut sebagai antagonisnya. Mary Poppins, justru menjadikan seorang borjuis seperti Bankir yang ramah, sebagai antagonis.

Turun dari langit, bergelantung di seutas tali layangan, membawa payung dengan gagang kepala burung yang bisa bicara. Pakaiannya selalu eksentrik lengkap dengan tas tikar yang ikonik. Dia siap mendidik anak-anak dengan kekuatan sihirnya. Sang Pengasuh misterius nan ajaib, Mary Poppins telah kembali !

Mary Poppins Returns adalah sekuel live action anak-anak dari film sebelumnya, Mary Poppins (1964). Diadaptasi dari novel fantasi anak-anak terbaik sepanjang masa karya mendiang PL Travers. Mary Poppins Return dibintangi oleh aktris cantik Emily Blunt. Film sebelumnya (1964), dibintangi oleh Julie Andrews.

Latar & Plot

Mary Poppins Returns berlatar di masa depresi besar London (1930). Film ini bercerita tentang Michael Banks (Ben Whishaw) dan saudarinya Jean Banks (Emily Mortimer). Kakak beradik itu telah tumbuh pasca pertemuan mereka dengan Mary Poppins dua puluh lima tahun yang lalu.

Michael bukan lagi anak yang kerdil. Dia telah jadi ayah beranak tiga. Jean, telah tumbuh dewasa jadi seorang Suffragette ( julukan untuk aktivis perempuan yang menyuarakan kesetaraan kaumnya dan hak buruh di peralihan abad 19 ke 20). 

Konflik dalam Mary Poppins Returns dimulai ketika dua petugas bank membawa surat sita untuk Michael. Rumahnya akan disita, jika dalam beberapa hari Michael tidak melunasi seluruh hutangnya. Kondisi ekonomi keluarga Michael sedang jatuh karena meninggalnya sang istri, membuat Michael berada dalam kondisi yang sulit.

Jean, saudari Michael yang masih lajang sebenarnya ingin mengasuh ketiga anak Michael di rumah. Namun, panggilan hatinya sebagai aktivis membuatnya lebih mengutamakan kepentingan yang lebih besar ketimbang masalah keluarganya sendiri. Disinilah awal mula kedatangan Mary Poppins yang nantinya hendak membantu keluarga Banks.

Baca juga: 1980 dan Gwangju, Supir Taksi di Sempalan Sejarah

Narasi sosialisme dalam Marry Poppins Returns

Bagi saya, Mary Poppins Returns adalah film yang menarik. Selain karena Travers menciptakan karakter dengan daya khayal sekelas Mary Poppins. Ceritanya, menurut saya secara tersirat menyampaikan pesan tentang sisi buruk dari sistem perbankan ala kredo kapitalisme.

Lihat bagaimana film ini mencoba menampilkan kelicikan sang CEO Bank, Colin Flirth (William Weatheral Wikins) sebagai antagonis. Sang CEO, disandingkan dengan tokoh serigala yang ditemui oleh ketiga anak Michael. Terlihat baik, ramah, dan suka membantu di depan. Namun penuh intrik jahat di belakang. Di lain sisi, ada protagonis pendukung seperti Jean yang ditampilkan sebagai aktivis pembela hak buruh dan perempuan.  

Keyakinan saya tidak sendirian. Kesadaran bahwa PL Travel dan tim sutradara menyelipkan narasi pro- sosialis dalam Mary Poppins ternyata dirasakan juga oleh berbagai kritikus film. Salah satunya adalah kritikus film asal Amerika yang anti sosialis, Armond White.

Dalam situs National Review, White menulis bahwa dia percaya jika Mary Poppins Returns memang mempromosikan sosialisme.

“Salah satu karakter minor dalam filmnya (Jean), menampilkan selebaran kertas dengan kampanye, untuk pekerja berupah rendah”. Film itu, tambah White “Membawa arus politik jahat, dengan berpura-pura jadi hiburan keluarga yang tidak berbahaya”.

Musik

Persis gambaran dalam salah satu lagunya, The Cover Is Not The Book. Musi latar dan lagu dalam film Mary Poppins Returns kental dengan nuansa yang intimidatif dan pedantik. terutama dalam lagu penutup di adegan balon Shaiman, “Now Here To Go But Up”.

Bagi para pendegar yang cermat, lirik dalam lagunya terdengar seperti hiburan Stalinisme : ‘Masa lalu adalah masa lalu / Hidup sebagai sejarah / Biarkan masa lalu / Selamanya sekarang’. Mengapa film keluarga harus diajak mengingat esensi dari penghapusan sejarah Soviet? tulis White.

Nuansa Soviet

White menyadari jika sepupu Mary Poppins, Topsy, berbicara dengan aksen Rusia. Seperti menandakan bahwa Mary Poppins, dan keluarganya memang berasal dari Soviet. “Silahkan ajak anak anda menonton Mary Poppins jika ingin anak anda tumbuh menjadi penyendiri, tidak ramah, dan penjahat antifa yang tuli” tulisnya. White menunjukkan cara Amerika konvensional yang memahami sosialisme secara bias.

Dukungan

Pengamat lain, Anthony Lane. Seorang jurnalis inggris dan juga kritikus film untuk majalah The New Yorker. Mengungkapkan bahwa “Mary Poppins, tentu saja, menjadikan seorang Bankir sebagai penjahatnya; semakin banyak biaya untuk sebuah film, maka akan semakin menggembirakan ( kebalikan dari doktrin kapitalisme yang menuntut efisiensi). Ini pasti mengutuk praktek dari kapitalisme dasar”.

Tak mau kalah, salah seorang netizen dalam akun twitternya yang bernama @elliejwilson, menuliskan “Mary Poppins sangat bagus ! Aku mencintai Emily Blunt. Mary Poppins adalah ratu anti kapitalisku. Dia bilang Banks itu jahat !”.

Baca juga: Sekilas tentang Nth Room, Kasus Eksploitasi Seksual yang Menginspirasi Extracurricular (2020)

Apakah PL Travers seorang sosialis?

PL Travers merupakan nama pena dari Helen Lyndon Goff. Dia adalah perempuan keturunan kulit putih Australia, yang pindah ke inggris. Semasa muda, dia menghabiskan waktunya sebagai aktris, mistikus, penulis, jurnalis dan pengembara yang produktif. Helen, tumbuh sebagai perempuan merdeka yang berkeliling dunia sendirian untuk mempelajari agama, cerita rakyat, mistisme dan politik.

Buku non fiksi pertama yang ditulis oleh Helen adalah Moscow Excursion. Terbit tahun 1934, buah sastra dari perjalanannya ke Uni Soviet di tahun 1932.  Masih di tahun yang sama, dia menerbitkan Mary Poppins yang kemudian melesatkan namanya.

Pada tahun-tahun berikutnya, dia menerbitkan tujuh buku lagi; Mary Poppins Comes Back (1935), Mary Poppins Opens the Door (1934), Mary Poppins in the Park (1952), Mary Poppins From A to Z (1962), Mary Poppins in the Kithen (1975), Mary Poppins in Cherry Tree Lane (1982), with the last being Mary Poppins and the House Next Door (1982).

Helen kecil hidup bahagia bersama ayah yang imajinatif. Ayahnya seorang manajer Bank yang sukses, namun alkoholik. Meninggal di saat Helen berusia tujuh tahun. Dalam film autobiografi yang berjudul Saving Mr Banks (2013), diterangkan bahwa ayah Helen menjadi alkholik karena stres kerja sebagai manajer Bank ternama di Australia.

Tuntuntan pekerjaan di Bank yang berat membuat ayah Helen depresi dan kecanduan alkohol. Pengalaman hidup inilah yang mungkin jadi alasan hadirnya narasi sosialis (anti kapitalisme) dalam karya terkemuka seperti Mary Poppins.

Tonton trailernya sekarang.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here