Darwin’s Game (2020): Shounen Battle Royale Rasa Isekai

1
105
Darwin's Game,
Gambar: Aniplex US (Youtube)

Darwin’s Game

Darwin’s Game adalah anime adaptasi dari manga karya FLIPFLOP. Terbit pertamakali di tahun 2012 untuk majalah Bessatssu Shounen Champion. Disutradarai oleh Yoshinobu Tokumoto Sensei dan diproduksi oleh Studio Nexus. Studio yang relatif baru dan belum memproduksi anime ternama.

Meski digarap oleh pendatang baru, tidak perlu khawatir dengan kualitas animasi. Untuk ukuran anime bergenre aksi, animasi yang disajikan cukup halus dan memberi pengalaman lebih baik ketimbang anime bergenre aksi-khas shounen yang lain.

Membunuh atau dibunuh

Membunuh atau dibunuh adalah hukum mutlak di alam liar. Menjadi yang terkuat adalah yang utama. Jika tidak bisa jadi yang terkuat, maka pilihannya hanya terbunuh atau jadi pecundang.

Dulu sekali manusia pernah hidup dengan hukum ini. Namun, bagaimana jadinya jika di jaman modern ini hukum rimba kembali diterapkan pada manusia. Meski tak bisa jadi yang terkuat dengan otot dan tenaga, kita kini bisa mengakses kekuatan dengan akal dan ilmu pengetahuan.

Sudou Kaname adalah siswa SMA biasa. Hidupnya berubah setelah mengklik tautan yang dikirimkan oleh temannya. Tautan itu berisi ajakan untuk memainkan game ponsel yang sekilas biasa saja.

Namun, itu bukan permainan RPG atau game arkade biasa. Sudou Kaname digigit oleh ular yang keluar dari layar ponselnya. Yang terjadi selanjutnya, dia telah berpartisipasi dalam survival, Darwin’s Game.

Baca juga: Banana Fish (2018) Mengajarkan, Kalau Cinta Bisa Hadir dalam Berbagai Bentuk dan Suasana

Reverse isekai 

Darwin’s Game mengambil latar belakang Jepang masa kini. Kemudian dipadukan dengan unsur game battle royal dan RPG. Sekilas, premis Darwin’s Game terlihat sama dengan isekai arus utama. Namun, Darwin’s Game bukan anime isekai.

Paduan elemen modern dan dunia game, ditambah klise karakter protagonis kuda hitam, tidak membuat Darwin’s Game membosankan dan mudah ditebak. Perkembangan karakter yang ditunjukkan Sudou Kaname cukup masuk akal.

Tidak berubah secara drastis dari karakter lemah menjadi super kuat. Kita juga bisa melihat tingkatan kekuatan yang logis antara Kaname, Shuka, Danjou, dan Xuelan. Menunjukkan bagaimana perbedaan antara pemain D-game pemula dengan pemain D-game veteran.

Baca juga: Tower of God (2020) Adalah Penanda Era Baru Anime

Ini soal strategi

Meski ada juga klise soal bakat terpendam, Kaname tidak lantas punya kemampuan yang OP (Over Power) ketimbang karakter lain. Pertarungan juga tidak semata-mata adu kuat ala DBZ (Dragon Ball Z) dan One Punch Man.

Darwin’s Game lebih menekankan pertarungan strategi dan kemampuan menggunakan sigil (kemampuan khusus pada anime ini) dengan baik. Sistem kekuatan sigil juga cukup menarik dan kreatif dari segi eksekusi. Kita telah disugukan banyak sistem kekuatan seperti chakra pada Naruto, quirk pada Boku no Hero, dan devil fruit pada One Piece.

Seringkali, satu jenis kemampuan diberi kekuatan yang lebih tinggi dari kemampuan lain. Membuat beberapa kemampuan jadi lebih inferior. Dalam anime ini, kemampuan yang OP sekalipun bisa kalah dari kemampuan yang biasa saja.

Baca juga: Psycho-Pass : Mungkin Masa Depan Manusia akan Seperti ini Setelah Covid-19

Semua itu mungkin. Jika digunakan di saat yang tepat dan dengan strategi akurat. Formula yang sama digunakan oleh Hunter x Hunter. Dalam pertarungan Shuka vs Sui, Shuka yang kemampuannya di atas Sui tetap kalah. Kecerdasan Sui membuat seluruh medan pertempuran memihak padanya.

Anime bergenre game dan isekai dengan kualitas rendah sudah terlalu banyak. Darwin’s Game hadir sebagai jalan keluar dari lingkaran setan tersebut. Premisnya sederhana dan pada derajat tertentu dapat dikatakan mainstream.

Meski begitu, Darwin’s Game memberikan pengalaman yang unik dalam menikmati perkembangan cerita. Karakternya terus tumbuh, dengan aksi-aksi memukau berbalut strategi tempur nan cerdas.

Tonton trailernya sekarang.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here