As Tears Go By (1988): Kisah Cinta Tragis Seorang Bandit Kecil

3
143
as tears go by,
Gambar: themoviedb.org

As Tears Go By, debut sang sutradara

Apa yang kamu pikirkan ketika membayangkan film berbahasa Mandarin? Vampir? Lelaki botak berkuncir? Dialog yang kaku? Film dengan sinematografi membosankan yang dinonton om-om? Well, mungkin saja karya sutradara Hongkong, Wong Kar-wai akan mengubah pandanganmu. Yang satu ini adalah film debutnya. As Tears Go By, produksi tahun 1988.

Plot

Pagi hari lainnya di salah satu sudut kota Hongkong, dekade 1980-an. Di rumah Wah (Andy Lau) yang tinggal sendirian, tidak ada aktivitas berarti. Wah biasanya masih tidur, dan beraktivitas ketika hari gelap.

Kali ini tidur nyenyaknya harus terganggu oleh dering telepon dari bibinya di kota lain. Tak lama berselang, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia adalah seorang gadis. Senyumnya manis. Tatapannya selembut suaranya. Dengan rambut setinggi bahu dan gaya khas 80’an.

Kaos hitamnya ditutup rapat oleh jaket bulu berwarna sama yang kelonggaran (sepertinya milik bapaknya). Dengan rok gelap bermotif bunga yang menjulur dan menutupi hampir seluruh kakinya. Gadis di hadapannya itu (Maggie Cheung) membuat Wah tertegun untuk beberapa saat.

“Kupikir kau sedang keluar. Aku Ah-Ngor. Kau sepupuku, iya kan?” sahut gadis itu seperti sudah akrab. Ibu Ah-Ngor lah yang telah mengganggu tidur Wah. Menelepon untuk mengabari bahwa anak gadisnya akan tinggal sementara di rumah Wah. Sampai pengobatan Ah-Ngor di Hongkong selesai.

Hari pertamanya di tempat Wah, Ah-ngor hanya duduk menyediri, gabut di sofa ruang tamu. Sepupu yang baru dia kenal kembali tidur, tak lama setelah membuka pintu dan mengizinkannya masuk.

“Ah, kalau ada yang menelepon, katakan untuk menelponku kembali nanti,” pesan Wah kepada Ah-ngor. Lalu membuang badannya kembali ke kasur. Ah-ngor, memang beberapa kali harus mengangkat telepon dari Fly (Jacky Cheung), sahabat Wah.

Cahaya langit sore redup di celah-celah jendela. Tak ada hal berarti yang dilakukan Ah-ngor. Hingga malam tiba. Dia memutuskan untuk berbaring dan ketiduran di sofa.

Di dalam heningnya rumah Wah, terdengar suara korek api yang dipantik dari arah kamar. Satu-satunya cahaya datang dari televisi yang tidak menampilkan siaran apapun. Wah menghisap rokok pertamanya untuk hari ini, sesaat setelah bangun.

Melihat Ah-ngor ketiduran, Wah membangunkannya dan menyarankan untuk tidur di kamar. Mereka berdua sempat mengobrol sebentar. Fly kembali menelepon dan memaksa Wah meninggalkan sepupunya sendirian di rumah.

“Aku masih bersama Fat-Karl untuk menagih utang!” ujar Fly. “Sialan! Kau masih belum juga dapatkan uangnya sampai sekarang? Ia Cuma mempermainkanmu! Tetap disana, aku akan segara datang,” jawab Wah. Dia bergegas menutup telepon dan menuju ke lokasi Fly. Menghiraukan sepupunya yang sejak tadi penasaran dengan urusannya.

Fly adalah karakter yang ceroboh, ambisius dan kekanak-kanakan. Sementara Ah-Site (Ronald Wong), tidak lama lagi akan menjalani hidup normal bersama istri barunya. Wah sendiri, tetap memilih jalan hidup sebagai bandit kecil untuk menghidupi dirinya.

Cinta seorang bandit

Kehidupan sebagai bandit bukan masalah bagi manusia tanpa orientasi hidup seperti Wah. Namun, renggangnya hubungan asmara yang terjalin selama enam tahun dengan pacarnya. Ditambah kecerobohan Fly yang selalu membawa petaka dalam hidupnya, kedamaian itu lenyap pelan-pelan.

Di tengah keterpurukan sepupunya, Ah-Ngor hadir dan secara tak sengaja jadi harapan baru bagi kehidupan Wah. Beberapa momen kecil ketika bertukar cerita di rumah tak disangka berkembang menjadi rasa cinta. Menaklukkan kerasnya perangai Wah.

Kini, Wah menghadapi dua pilihan. Melanjutkan kehidupan bandit yang penuh marabahaya tak berkesudahan bersama ‘adik’ kesayangannya, Fly. Atau mengejar cinta di kota lain, membangun hidup baru bersama Ah-Ngor yang menantinya di sana.

Baca juga: Adrift (2018): Cinta dan Perpisahan di Tengah Badai

Semburat warna neon kota Hongkong, jadi bumbu petualangan seorang bandit kecil dengan kisah cintanya yang memilukan. Film As Tears Go By berhasil jadi titik pijak bagi karir Wong Kar-Wai sebagai seorang sutradara termahsyur di Asia Timur.

Musik latar

Bukan Wong Kar-Wai bila tidak mempertimbangkan musik dalam filmnya. Ada banyak lagu yang mengiringi berbagai adegan dalam film ini. Namun ada satu momen antara Wah dan Ngor yang sangat membekas. Dan itu, berkat sebuah lagu pengiring.

Dentuman bass dan lantunan suara Sandy Lam dengan cover lagu Take My Breath Away ciptaan Giorgio Moroder (aslinya dibawakan oleh Berlin) benar-benar klop dengan perasaan yang coba dipicu oleh Wong Kar-Wai. Meski covernya menggunakan bahasa Kanton, namun lirik ‘..take my breath away..’ yang repetitif sudah cukup membuatmu tenggelam di kedalaman emosi adegannya.

Sinematografi

Sinematografi film-film Wong Kar-Wai memang autentik. Penggunaan warna-warna kontrasnya adalah elemen penting dalam film. Membuatnya jadi sutradara yang dapat tempat khusus dalam dunia film.

Penggunaan tekniknya diluar standar umum. Gambar yang terpotong-potong. Blur di sana-sini akibat bukaan kamera yang rendah juga menjadi ciri khasnya.

Diatas semua itu, kombinasi berbagai elemen sinematografi Wong Kar-Wai berhasil memicu perasaan yang biasanya sulit dijelaskan. Kesepian, nostalgia, kerinduan akan sesuatu yang telah hilang. Berbagai perasaan ini dengan ajaib dihadirkannya dalam berbagai adegan di filmnya. Dengan perantara warna dan teknik pengambilan gambar.

Sebagai film debut, As Tears Go By belum sehebat garapan Wong saat bekerja sama dengan sineas Christopher Doyle. Namun, sinematografi dari film debut ini sudah cukup. Untuk membuatmu berempati, pada tragisnya kisah cinta tokoh utama.

Tonton trailernya sekarang.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here