Designated Survivor (2016-2019), Drama Politik yang Kurang Sinematik

0
131
Designated Survivor,
Gambar: eOne ANZ (Youtube)

Designated survivor (Trivia)

Designated Survivor adalah film garapan David Guggenheim. Serial berbahasa Inggris produksi Amerika Serikat. Paduan dari empat genre berbeda, aksi, drama, misteri, dan thriller. Rilis 21 september 2016. Serial ini telah merampungkan musim ketiga di tahun 2019.

Plot

Pidato tahunan Presiden Amerika Serikat malam itu menjadi tragedi. Gedung Capitol yang jadi lokasi pidato, dibom oleh kelompok misterius. Seluruh pejabat termasuk presiden tewas. Bangunan runtuh dan rata dengan tanah. 

Sesuai protokol, suksesor Presiden AS telah disiapkan satu malam sebelum acara pidato tahunan. Dalam aturan, jika presiden berhalangan (meninggal, mengundurkan diri, atau tidak mampu menjalankan tugas pemerintahan) maka tugas diambil alih. Pelaksananya adalah Wakil Presiden, Ketua Legislator, Ketua Senat, disusul oleh menteri-menteri Kabinet, sesuai urutan yang ditetapkan. 

Suksesor itu adalah Tom Kirkman (Kiefer Sutherland). Pejabat sekretaris dari Kementrian Perumahahan Rakyat atau kalau di Indonesia setingkat Menteri PUPR. Jaksa Agung, tokoh agama, dan saksi pejabat Gedung putih, telah hadir. Tom Krikman disumpah malam itu juga jadi kepala negara. Mengomandoi Amerika, yang sedang menghadapi masalah terorisme, ekonomi dan masalah-masalah tak terselesaikan.

Baca juga: 8 Mile (2002): Dari Rasisme ke Jabat Tangan

Karakter dan pemeran

Director dan Cast Department serial Designated Survivor cukup cerdas menciptakan karakter dan memilah pemeran. Tokoh utama Tom Kirkman misalnya, digambarkan sebagai presiden yang harus mengayomi dan melindungi rakyat. Dia mencintai dan mengabdi pada konstitusi dengan cara yang sama ke keluarganya. Cocok dengan persona Kiefer yang bijaksana dan sudah veteran di dunia seni peran.

Karakter Alex Kirkman sukses diperankan oleh Natasha McElhone. Alex digambarkan sebagai ibu untuk negara dan anak-anaknya sekaligus panutan bagi para keluarga di Amerika. Terlihat ideal, tapi tunggu hingga adegan si ibu negara secara berlebihan mencampuri urusan suaminya dalam roda pemerintahan.

Yang menarik adalah karakter pendukung Hannah Wells (Maggie Q). Agen FBI yang menyelidiki kasus terorisme secara tuntas. Dari musim pertama hingga ketiga, agen Hannah tetap jadi femme fatale. Dia selalu lolos dari maut’ saat menghadapi musuh. Berbanding terbalik dengan para agen laki-laki yang kebanyakan mati dibunuh musuh.

Pada satu titik, cast department membuat saya kecewa. Banyak tokoh yang muncul cukup intens pada musim-musim sebelumnya, di musim berikutnya hilang. Malah kelekatan dan kedekatan antar tokoh mulai kurang terasa

Sinematografi

Kualitas plot menurun

Musim pertama Designated Survivor tayang dengan 20an episode dan sukses menggaet 10 juta penonton. Konflik ceritanya sukses menyeret kita dalam perburuan dalang pengeboman Capitol. Penulis skenario bersama sutradara mengemas secara rapi. Kasus pengeboman tidak didesain sebagai konflik tunggal, setiap episodenya kita juga disuguhi intrik dan masalah negara yang seabrek. 

Hingga musim kedua tayang di tahun 2017, serial ini masih konsisten. Meski konflik mayor dan minor bercampur dalam alur, serial ini cukup disiplin. Berusaha tidak keluar jalur hingga cerita mencapai konklusi.

Musim kedua makin karena ada twist yang mindblowing. Meski itu mengorbankan sisi dramatis. Konflik cerita yang intens hingga membuat musim kedua berakhir cukup “wah”.

Serial ini sempat mengambang apakah berlanjut atau berakhir. Namun, september 2018, Netflix dan Entertainment One mengumumkan bahwa mereka telah sepakat untuk menggarap Designated Survivor. Musim ketiga tayang perdana di Netflix, 7 Juni 2019. 

Musim ketiga serial ini berubah drastis. Dari pemain, alur cerita hingga desain produksi. Alih-alih keseruan atau sekuel yang menarik, konfliknya jadi sangat biasa. Semuanya terlihat dipaksakan. Terbukti dari frekuensi tayang yang turun jadi 10 episode saja. Kerjasama Netflix dan One Entertainment rasanya bukan ide bagus untuk sekuel ini.

Baca juga: 365 Days (2020): tak Ada yang Istimewa, Hanya Parade Adegan Erotis

Biaya produksi besar, lemah di gambar

Saya menduga total biaya produksi serial ini menembus angka milyaran rupiah. Saya tak tahu pastinya, tapi tetap yakin. Bayangkan, extras dalam serial ini mencapai ratusan. Hanya untuk menciptakan nuansa ruwet, bekerja di instansi pemerintahan.

Itu makin jelas saat melihat hasil kerja keras tim artistik membuat set Gedung Putih serupa aslinya. Penonton dimanjakan dengan adanya ruang oval, gedung sisi sayap barat, pentagon, ruang pers Gedung Putih, Gedung Capitol, kantor FBI, rumah tahanan dengan sistem keamanan yang tinggi dan ketat, dan masih banyak lagi. Seolah-olah kita sedang tur ke tempat sebenarnya tanpa harus datang langsung.

Hanya saja, set yang mewah kehilangan impresi saat mendapati metode sorotannya biasa saja. Director of Photography kurang mengeksplor angle yang tidak ketinggalan zaman. Metode follow talent mungkin sedikit menarik. Melibatkan penonton dalam kesibukan para pemeran. Tapi dalam editing, editor serial ini kurang teliti soal keserasian transisi gambar dan sekuensi cerita. Kita bisa menemukan beberapa kali jumping.

Baca juga: Antara Hukum dan Kebebasan di The Shawshank Redemption (1994)

Cocok untuk penggemar politik

Nilai 7.8 dari 10 rasanya cukup untuk serial ini. Designated Survivor tidak terlalu membosankan untuk ditonton. Drama dan konfliknya bisa dinikmati. Saya merekomendasikan untuk siapa saja yang sedang ingin belajar sistem politik negara adidaya Amerika Serikat. Tontonlah serial ini jika kamu mahasiswa di jurusan Hubungan Internasional. 

Di serial ini, kalian akan mendapatkan bocoran mengenai hukum tata negara amerika dan kewenangan para pejabat politiknya. Bukan hanya itu, serial ini terang-terangan membongkar kebobrokan sistem politik amerika. Yang sarat penghianatan di internal pemerintahan.

Tonton trailernya sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here