Time to Hunt (2020) dan Wajah Distopia Korea

0
129
Time to Hunt,
Gambar: The Swoon (Youtube)

Distopia Time to Hunt

Film atau serial garapan Korea Selatan biasanya menampilkan sisi gemerlap dan aroma modernisme. Time to Hunt keluar dari semua jalur itu. Film berdurasi 134 menit ini memvisualisasikan distopia Korea Selatan. Yang kelam, penuh kesengsaraan, dan ketimpangan mengerikan.

Baca juga: As Tears Go By (1988): Kisah Cinta Tragis Seorang Bandit Kecil

Plot

Film arahan Yoon Sung-hyun ini mengambil latar fiktif krisis ekonomi di Korea Selatan. Nilai mata uang Won terjun bebas dan kehilangan nilai. Menjadikan Dollar Amerika sebagai satu-satunya alat tukar. 

Joon-seok yang diperankan oleh Lee Je-hoon, baru keluar dari penjara setelah tiga tahun masa hukuman. Yang pertama dia temui adalah sahabatnya, Jang-ho (Ahn Jae-hong) dan Ki hoon (Choi Woo-shik). Dalam reuni di sebuah bar, Joon-seok menceritakan tentang mimpi dan rencananya.

Dia ingin membeli rumah di sebuah pulau dan memulai hidup baru bersama Jang-ho dan Ki hoon. Dengan Korea yang di ambang kehancuran, kedua sahabatnya itu pesimis dengan mimpi Joon-seok. Tapi, Joon-seok tidak demkian.

Baca juga: 1980 dan Gwangju, Supir Taksi di Sempalan Sejarah

Berbekal pengalaman sebagai perampok, Joon-seok merencanakan perampokan kecil di tempat perjudian illegal. Dia butuh Jang-ho, Ki-hoon, dan Sang-soo (pelayan di tempat perjudian tersebut) untuk menjalankan rencana. Awalnya semua temannya menolak rencana itu.

Resiko terlalu besar jika gagal. Namun, keinginan besar mengubah nasib serta balas budi pada Joon-seok membuat tiga orang itu akhirnya terlibat. Perampokan itu berhasil, berjalan sesuai rencana.

Joon-seok dan ketiga rekannya lolos dari kejaran gangster kasino dan kabur dengan uang jutaan. Sialnya, rekaman CCTV yang mereka ambil dari casino (untuk menghilangkan jejak ) ternyata berisi rekaman dari seorang pelanggan VIP. Hal itu membuat mereka jadi incaran seorang pembunuh bayaran, Han (Park Hae-soon). 

Tak ada plot twist, plot hole pun jadi

Film aksi dan thriller ini, tidak menyuguhkan adegan perampokan yang memacu ketegangan. Hanya perampokan biasa dengan adegan gertak-gertakan dan tembak-tembakan. Meski perampokannya bukan premis utama, harusnya Yoon Sung-tetap menyajikan adegan perampokan yang menarik sebagai bumbu agar film ini lebih berkesan. 

Film ini juga jadi membosankan karena adegan kejar-kejaran yang berulang. Awalnya kita memang tegang karena pembunuh bayaran yang memburu empat sahabat itu. Tapi, ketika Han akhirnya menangkap Joon-seok dan rekannya, dia lebih memilih melepas mereka secara cuma-cuma. Itu jelas logika cerita yang membingungkan. 

Baca juga: 8 Mile (2002): Dari Rasisme ke Jabat Tangan

Penambahan karakter kakak Bong-sik, bos gangster, yang ingin balas dendam pada Han atas kematian adiknya terkesan dipaksakan. Tujuannya, mungkin untuk menyelamatkan Joon-seok yang telah terpojok oleh Han. Supaya cerita bisa happy ending.

Tapi itu membuat semua adegan kejar-kejaran dan baku tembak Han dan Jonn-seok jadi anti klimaks. Semua build-up sejak awal cerita jadi sia-sia. Menjadikan film Time to Hunt terasa sangat nanggung. 

Akting juara para pemeran

Terlepas dari kelemahan plotnya. Time to Hunt perlu diapresiasi urusan akting para pemerannya. Lee Je-hoon yang memerankan Joon-Seok berhasil menggambarkan rasa takut saat jadi target pembunuh bayaran. Park Hae-soo juga sukses menunjukkan patologi dari karakter Han, si pembunuh bayaran yang berhati dingin dan tak kenal ampun. Chemistry yang kuat antara Lee Je-hoon, Ahn Jae-hong, Choi Woo-shik, dan Park Jung-min dalam memerankan empat bersahabat ini melahirkan bromance di tengah semua kesuraman film ini. 

Baca juga: Antara Hukum dan Kebebasan di The Shawshank Redemption (1994)

Sinematografi dan scoring

Sinematografi dan scoring film ini lebih terasa seperti horor ketimbang action dan thriller. Lim Won-Geun memberi tone gelap dengan dominasi biru dan merah pada film untuk meningkatkan ketegangan. Angle yang unik membuat sinematografi film berkesan. Jangan lupakan, scoring yang selaras dengan nuansa kelam sinema. Jika kalian mencari film Korea Selatan dengan visual yang lebih segar dari garapan Korea kebanyakan, Time to Hunt ini bisa menjadi pilihan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here