Fat Thor telah Meruntuhkan Maskulinitas dalam Avengers Endgame (2019)

5
199
Fat Thor,
Gambar: One Media (Youtube)

Fat Thor dan runtuhnya simbol maskulinitas

Untuk beberapa waktu, saya kurang tertarik pada karakter ini sebelum jadi Fat Thor. Sejak kemunculan perdananya di tahun 2011, hingga pada Avengers Infinty War (2018). Tokoh satu ini hanya menampilkan maskulinitas pria yang arogan dan membosankan.

Memang benar karakter lain seperti Steve Rogers, Clirt Barton, maupun sang raja Wakanda T’Challa sama maskulinnya.  Namun, Thor sang dewa petirlah yang tercatat sebagai salah satu tokoh terkuat di jagat MCU.

Bila berbicara seperti apa bentuk super ideal pria maskulin. Sepakat atau tidak, Thor lah (Selain Thor 3 & Endgame) yang mungkin pantas dijadikan salah satu role modelnya. 

Kuat dalam arti yang sebenarnya. Badan kekar, suara berat, kumis-brewok yang menutupi rahang persegi. Tipikal pejantan alfa dengan pembawaan yang agresif dan tangguh.

Baca juga: Sekilas tentang Nth Room, Kasus Eksploitasi Seksual yang Menginspirasi Extracurricular (2020)

Citra Thor dijungkirbalikkan oleh sang sutradara Joe & Anthony Russo dalam Avengers Endgame. Sebenarnya, saya sempat berpikir. Memang akan ada perubahan yang besar-besaran pada karakter penting MCU yang satu ini.

Tanda-tanda itu bermula dari cara Taika Watiti memperlakukan Thor dalam sekuel film ketiganya (2017). Si Anak Odin dalam film ini tampil konyol dan lucu. Melenceng dari karakter sebelumnya yang selalu serius dan kaku.

Penampilan kocak Thor di sekuel ketiganya membawa angin segar. Perombakan itu mendapat respon positif dari para penonton. Mungkin itu jugalah yang mempengaruhi keputusan sang duo sutradara Avengers Endgame. Memunculkan si Fat Thor ke dalam film puncak MCU.

Perut Chris Hemswort yang semula bersarang otot menjelma gumpalan lemak yang bergelambir. Rambut yang dipotong pendek kembali panjang tapi berantakan.

Baca juga: 1980 dan Gwangju, Supir Taksi di Sempalan Sejarah

Namun, hal paling menarik adalah kepribadiannya yang berubah drastis. Tiba-tiba terkena serangan panik dalam perjalanan waktu ke Asgard. Di sana, si Fat Thor menangis seperti anak kecil di depan Ibunya. Menggemaskan dan menyentuh. Nilai seratus untuk Russo bersaudara!

Memang benar, ada penonton yang membenci ide Fat Thor ini. Apalagi, perang besar dengan pasukan Thanos yang ketika itu masih berkekuatan penuh sedang menunggu para Avengers. Namun, diantara semua versi Thor, Fat Thor adalah versi favorit saya.

Saya masih penasaran dengan motivasi duo Sutradara menghadirkan Fat Thor dengan masalah mental illness ini. Apakah sekedar merespon umpan balik positif dari penonton Thor 3? Atau ada agenda lain seperti menyelipkan narasi gender dan isu kesehatan mental? Saya akan mencoba berbaik sangka dengan memilih motif kedua.

Maskulinitas dan masalah kesehatan mental

Ide artikel ini bermula ketika saya melakukan perjalan wisata ke sebuah pantai di kabupaten Bulukumba. Saya sedang mengendarai motor bersama teman saya. Dia seorang perempuan.

Perjalanannya lumayan jauh sehingga memakan waktu berjam-jam. Ada peristiwa kurang menyenangkan sewaktu di perjalanan. Teman saya mendesak agar kendaraan lebih ngebut.

Tidak ada yang salah. Namun, saya punya pengalaman traumatis akibat kecelakan motor. Pikiran saya jadi kacau karena didesak. Belum puas mengacaukan pikiran saya, perempuan ini mengatakan sesuatu yang tak kalah toksik. “Laki-laki itu harus kuat! Laki-laki kok trauma? Kayak Perempuan saja!”

Baca juga: All the Bright Places (2020): Romansa Remaja Berbalut Isu Kesehatan Mental

Konstruksi nilai Maskulinitas. Bermanfaat atau tidak bagi peradaban. Telah menyumbangkan berbagai masalah dalam isu kesehatan mental. Mereka yang menjunjung ekspresi maskulin, biasanya enggan terlihat rentan. Khususnya dalam persoalan mental.

Menurut Wimer & Liveni dalam studi di tahun 2011 yang melibatkan seratus tujuh puluh delapan partisipan mahasiswa pria, maskulinitas secara signifikan diasosiasikan dengan perilaku menghindari pertolongan. Hal ini dipicu oleh dua faktor, kemandirian & kebutuhan mendominasi.

Pria yang mencari pertolongan saat sedang rentan, dianggap tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri. Selain itu dengan mencari pertolongan, sang pria akan dikategorikan sebagai sosok yang lemah sehingga tidak pantas dalam mendapatkan penghormatan atau status sosial yang tinggi dari kawanan.

Baca juga: Literasi Kesehatan Mental dalam Soul Mechanic (2020)

Menurut Brannon (1985) ada semacam konsensus dalam lingkaran yang maskulin. Mereka harus menjauhi ekspresi feminim. Tidak boleh menampakkan kelemahan, fisik dan psikis, kebutuhan akan dominasi dan pengakuan, kesediaan untuk terlibat dalam perilaku mencari resiko, atau melakukan kekerasan jika diperlukan.

Siapapun yang gagal memenuhi nilai-nilai ini, rentan untuk diremehkan dan dicampakkan. Sebuah resiko yang dapat mengancam status sosial para pria.

Karena hal seperti inilah ada temuan bahwa pria 3,5 kali lebih rentan mati akibat bunuh diri ketimbang perempuan. Meski pada temuan lain perempuan lebih mudah membicarakan niatnya untuk bunuh diri ketimbang pria. Yah, maskulinitas adalah akar persoalannya.

Baca juga: Tharntype (2019): Homofobik itu Gak Baik, Tonton ini Biar Kamu Ngerti

Kemunculan Fat Thor, dengan serangan panik dan rengekan ke sang ibu ini adalah cara sederhana menggugat maskulinitas yang destruktif.

Russo bersaudara beserta tim produksinya pantas dapat apresiasi untuk Masterpiece sekelas Avengers Endgame. Bukan hanya karena plot yang tidak lazim. Tapi selipan narasi-narasi isu kemanusiaan.

Thor sang Avengers terkuat saja bisa terkena masalah Kesehatan mental. Apalagi kamu yang seorang manusia biasa ! It’s ok not to be ok ! it’s ok to find somehelp!

-Salam ! Kecup Peluk !

5 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here