Kekerasan yang Mengintai Anak-anak dalam Silenced (2011)

2
661
Kekerasan,
Gambar: CJ Entertainment (Youtube)

Jalan sunyi anak-anak penyintas kekerasan

Silenced diadaptasi dari peristiwa kekerasan yang terjadi di Gwangju Inhwa School. Sekolah tunarungu yang berdiri sejak 1961 di Korea Selatan. Film ini disutradarai oleh Dong Hyuk Hwang.

Di KOFRA Film Awards tahun 2012 jadi Best Film. Di tahun yang sama, Udine Far East Film Festival memberi penghargaan berupa Audience Award dan Black Dragon Audience Award.

Namun, pencapaian terbesar sesungguhnya dari film ini adalah ditutupnya Gwangju Inhwa School dua bulan setelah filmnya rilis. Publik menggelar protes, menuntut kasusnya dibuka kembali untuk investigasi.

Baca juga: Sekilas tentang Nth Room, Kasus Eksploitasi Seksual yang Menginspirasi Extracurricular (2020)

Salah satu dari dua pelaku yang sebelumnya hanya dijatuhi hukuman dua tahun penjara, diperpanjang menjadi 12 tahun. Hukuman yang masih terbilang sangat ringan menurutku.

Revisi RUU tentang pelecehan seksual juga dilakukan pemerintah tidak lama setelah film ini muncul. Dogani Law. Secara spesifik berisi kebijakan penambahan tuntutan perihal hukuman yang lebih berat untuk pelaku kekerasan seksual. Terutama pelaku yang melecehkan anak di bawah umur 13 tahun dan penyandang disabilitas.

Laki-laki juga penyintas

Toxic Masculinity selama ini menempatkan laki-laki sebagai individu kuat yang muskil kena tindak kejahatan. Khususnya menjadi korban pelecehan seksual. Anggapan usang yang terus saja dipelihara.

Kenyataannya, sama seperti perempuan, laki-laki juga berisiko mengalami pelecehan seksual. Kasus pemerkosaan terbesar dalam sejarah Inggris kemarin buktinya. Dilakukan oleh Reynhard Sinaga.

Baca juga: 1980 dan Gwangju, Supir Taksi di Sempalan Sejarah

Masyarakat kerap mengabaikan bahwa hal utama yang implisit dari kasus kekerasan seksual adalah persoalan dominasi. Kekerasan lebih mungkin terjadi ketika ada relasi kuasa. 

Pemandangan ini yang coba ditampilkan Dong Hyuk Hwang dalam Silenced. Melalui Min Suu, kita bisa melihat bagaimana brutal dan manipulatifnya sang guru dalam melancarkan aksi bejatnya.

Beberapa kali sang guru menghajar dan memperkosanya. Perlakuan serupa juga ia lakukan kepada adik Min Suu. Membuatnya kesakitan. Hingga akhirnya menabrakkan dirinya pada kereta api.

Tak ada HAM hari ini

Saya tiba-tiba teringat film ini kemarin. Saat berseluncur di instagram. Berseliweran potret anak-anak dengan senyum merekah di wajah. Disusupi tulisan “Selamat Hari Anak Nasional 2020”.

Senang rasanya membayangkan anak-anak tersenyum. Riang. Tertawa lepas. Menari. Bermain dengan sebayanya. Berimajinasi dengan dunianya. Menangis hanya karena persoalan mainan.

Tanpa diintai rasa takut pada bahaya predator seksual. Atau, hidup dalam trauma berkepanjangan.

Tetapi bayangan empat anak-anak di Silenced membuyarkan imaji saya. Pelecehan seksual yang nyata menimpa mereka. 

Baca juga: Fat Thor telah Meruntuhkan Maskulinitas dalam Avengers Endgame (2019)

Pertama kali menonton ini, di seperempat film, saya telah banyak mengumpat. Adegan Min Suu yang dihajar habis-habisan oleh sang guru di ruang kerja. Disaksikan guru-guru lain. Tanpa ada yang coba menghalangi. Seolah itu adalah hal wajar.

Yeon Doo yang rambutnya digunting, kepalanya dimasukkan dan diputar ke dalam mesin cuci oleh pengawas asrama, Yun Ja Ae. Dengan dalih mendidik anak-anak. 

Film ini terasa begitu familiar. Perjuangan Kang In Ho dan Seo Yoo Jin (seorang aktivis HAM) dalam memperoleh keadilan bagi para penyintas dibenturkan berbagai masalah. 

Pelaku dihormati masyarakat karena kontribusinya dalam pembangunan kota. Membangun citra sebagai penatua di Gereja Mu Jin dan umat Kristen yang setia. 

Kepolisian yang selalu mendapat jatah uang dari sekolah turut membantu mereka. Pemerintahan dan dinas pendidikan setempat saling melempar tanggung jawab. Hakim-jaksa-pengacara yang juga berpihak kepada mereka karena alasan primordial. 

Baca juga: Menstruasi Bikin Film Menang Oscar, Itulah Period. End of Sentence (2018)

Upaya damai dengan menyogok pihak keluarga penyintas yang memiliki keterbelakangan mental. Serta kondisi ekonomi yang terpuruk.

Sejak awal masuk persidangan, tidak ada keadilan yang berpihak pada penyintas. Kesaksian mereka diragukan karena tunarungu. Pengadilan tidak menyediakan penerjemah bahasa isyarat. Menegaskan bahwa penyintas tidak dalam posisi imbang apalagi diuntungkan.

Balas dendam atau jadi arwah penasaran seperti Suzzanna

Jangan berharap ada akhir yang bahagia dari film ini. Didominasi warna gelap, emosimu akan semakin terguncang menyaksikan kisah kelam para penyintas.

Ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada para tersangka membuat Min Suu geram. Ia begitu sakit hati. Tidak mendapat kesempatan bersaksi di pengadilan karena neneknya menyetujui jalan damai. 

Padahal ada banyak penderitaan yang ingin ia suarakan. Kematian sang adik salah satunya. Min Suu tak tahan terus-terusan dibungkam. Ia tidak mau lagi diam.

Akumulasi kemarahan, kesedihan, dan penderitaan berbuah hasrat pembalasan dendam. Ia mengintai sang guru yang baru saja pulang dari pesta perayaan lolosnya ia dari jerat hukum.

Baca juga: Mengenal Stockholm Syndrome dalam Seri Money Heist (2017)

Di rel kereta api, Min Suu berdiri, dihampiri sang guru. Saat tangan sang guru bergerilya di wajah Min Suu, pisau dapur mendarat di perutnya.

Sempat terjadi perkelahian yang berakhir dengan adegan Min Suu meringkus sang guru. Berbaring di rel kereta api, hingga tubuh mereka terlindas.

Adegan ini juga mengingatkan saya dengan film horor Suzanna. Sundel Bolong (1981). Suzanna, penyintas pemerkosaan memilih bunuh diri karena hukum yang tidak berpihak. Ia menjadi hantu gentayangan yang membalaskan dendamnya kepada para pelaku.

Ironi memang. Di negara hukum, penyintas yang merebut keadilan untuk dirinya sendiri. Seringkali berakhir hilangnya nyawa.

Btw, Selamat Hari Anak Nasional. Rangkul anak-anak di kiri kananmu. Kenalkan mereka pada bagian tubuhnya yang tidak boleh disentuh tanpa seiziinnya. Pun bagian tubuh orang lain yang tidak boleh mereka sentuh seenaknya. 

Beritahu mereka apa itu pelecehan seksual dan bagaimana bentuknya. Apa yang harus mereka lakukan jika ada orang yang menyentuh tubuh, penis atau vaginanya secara tiba-tiba. Karena tidak pernah ada jaminan mereka terhindar dari pelecehan seksual. Entah itu di sekolah, tempat ibadah, taman bermain, bahkan rumah sekalipun.

PS : Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI) Kemen PPPA mencatat sebanyak 3.928 kasus kekerasan terhadap anak dilaporkan sejak Januari sampai 17 Juli 2020.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here