Toxic Parents dalam Its Okay to Not Be Okay (2020)

4
54
Toxic parents,
Gambar: The Swoon (Youtube)

Its Okay to Not Be Okay mengingatkan kita akan bahaya toxic parents dalam keluarga. Drama siaran tvN ini akan ditayangkan di Netflix sebanyak 16 episode. Dibintangi oleh Kim Soo Hyun dan Seo Ye Ji sebagai pemeran utama. Drama ini mengangkat tema healing-romance. Bercerita tentang kisah cinta yang saling menyembuhkan luka psikologis satu sama lain.

Its Okay to Not Be Okay mengingatkan kita betapa pentingnya peran orangtua terhadap pembentukan watak anak ketika dewasa. Di setiap episodenya akan disuguhkan perjuangan para tokoh untuk pulih dari luka masa lalu. Ini adalah luka batin yang dibawa hingga dewasa akibat pola asuh orangtua yang salah. Dikenal dengan istilah toxic parents.

Meski tak terlihat, toxic parents jelas berbahaya karena dapat mengganggu psikologis anak. Ekspektasi berlebihan, membicarakan keburukan anak, membandingkan anak, menjadi monster ketika marah, pelit harta dan kasih sayang adalah beberapa jenis toxic parents yang biasa dilakukan secara sadar ataupun tidak.

Dengan adanya drama ini, para orangtua diharapkan bisa berkaca dari kemalangan yang dialami beberapa tokoh dalam drama.

Baca juga: Konflik Kesehatan Mental dalam All the Bright Place (2020)

Anak yang minim kasih sayang

Tokoh utama dalam drama ini bernama Moon Gang Tae (Kim Soo Hyun) dan Ko Moon Yong (Seo Ye Ji).  Mereka berdua memiliki luka masa lalu yang membekas hingga sekarang.

Ko Moon Young menjadi sosok yang anti sosial, susah bergaul, dan cenderung bersikap sadis. Sewaktu kecil ia menyaksikan ibunya dibunuh oleh ayahnya sendiri. Sang ayah yang mengalami gangguan mental saat itu, juga pernah berusaha menghabisi nyawa Ko Moon Young. Luka ini membekas di alam bawah sadarnya. Ia lalu menuangkannya ke dalam buku cerita anak-anak populer yang ditulis bertema dark.

Moon Gang Tae adalah seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa. Sang Kakak, Moon Sang Tae (Oh Jung Se) yang mengidap autisme membuat ibunya memberikan perhatian lebih kepada Moon Sang Tae. Ini jelas tidak adil bagi Moon Gang Tae yang keberadaannya saja sering tidak dianggap.

Salah satu adegan yang menurut saya sangat menyentuh ketika sang ibu hanya memeluk Moon Sang Tae, dan Moon Gang Tae harus diam-diam memeluk ibunya saat tidur. Ia juga ingin merasakan hangatnya pelukan Ibu. Ingatan tersebut mencuat saat ia membaca buku karya Ko Moon Young tentang kisah anak zombie yang tak pernah merasakan pelukan Ibu. Moon Gang Tae menangis.

Sama-sama memiliki luka batin membuat mereka dekat dan saling menyembuhkan luka psikologis satu sama lain.

Selain kedua tokoh di atas, karakter Kwon Gi Do (Kwak Do Yeon) juga menarik perhatian saya. Meski hanya sebagai comeo, karakternya menggambarkan dengan jelas tentang bagaimana gangguan mental dapat terjadi akibat pola asuh orangtua yang salah.

Memiliki orangtua politikus dan saudara-saudara yang cerdas membuat Kwon Gi Do dikucilkan dalam keluarga. Ia dianggap memalukan dan menjadi aib, sehingga keberadaannya disembunyikan dari dunia luar. Akibatnya, ia mengalami gangguan maniak yang gemar memamerkan ketelanjangannya untuk sekedar mendapat perhatian.

Baca juga: Long Khong The Series (2020), di Sekitar Kompetisi dan Teror

Tanggung jawab besar yang dipikul sejak dini

Memiliki kakak autisme, membuat Moon Gang Tae harus bersikap dewasa sejak kecil. Ia harus menjadi pelindung sang kakak dari orang-orang yang berniat melakukan perundungan. Jika tidak mampu, siap-siap saja Moon Gang Tae menjadi sasaran kemarahan ibunya.

Tanggung jawab yang dipikul sejak kecil membuat Moon Gang Tae tidak bisa menikmati masa kecil seperti yang seharusnya. Hingga dewasa pun harus berpindah-pindah kota untuk melindungi kakaknya yang juga memiliki pengalaman traumatis. Trauma tersebut menyebabkan Moon Sang tae takut terhadap kupu-kupu.

Kekerasan terhadap anak

Tokoh lain dalam drama ini bernama Yoo Sun Hae (Joo In Young), seorang pasien dengan gangguan identitas disosiatif. Yoo Sun Hae memiliki 2 kepribadian berbeda, yakni dirinya sebagai cenayang dan sebagai anak kecil yang rapuh.

Karakter yang diperankan oleh Yoo Sun Hae berhubungan dengan pengalaman traumatisnya di masa lalu. Sejak kecil ia menerima kekerasan fisik dari orangtuanya. Ayahnya bahkan pernah menjualnya ke dukun.

Gangguan mental yang dialami oleh para pemain di atas menjadi contoh bagaimana anak bisa menderita akibat toxic parents dalam keluarga. Di mana ada anak yang terluka, di sana ada orangtua yang abai. Tanpa disadari orangtua biasa tak peduli terhadap perasaan anak dan hanya mementingkan ekspektasi mereka sendiri. Akibatnya, anak memiliki luka mendalam yang dibawa hingga dewasa.

Baca juga: Men are Men (2020): Pilihan Menikahi Diri Sendiri dan Cinta yang Tak Pernah Tepat Waktu

Mengenal butterfly hug dalam Its Okay Not to Be Okay

Pada episode 2, butterfly hug menjadi salah satu teknik psikoterapi dasar yang ditampilkan dalam drama ini. Moon Gang Tae mengajarkan teknik ini ketika berusaha menenangkan Ko Moon Young yang sedang marah. Menurut saya adegan ini adalah scene terbaik dan bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Butterfly hug sudah menjadi istilah yang tidak asing dalam dunia psikologi. Lucina Artigas dan Ignacio Jarero adalah seorang praktisi yang pertama kali memperkenalkan teknik tersebut pada korban badai Pauline di Meksiko, 1998. Teknik psikoterapi ini terbukti ampuh dalam menangani trauma seseorang dengan emosi yang tidak stabil.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here