Lady Bird (2017): Terbang Tinggi Menuju Pendewasaan Diri

3
90
Lady Bird,
Gambar: A24 (Youtube)

Lady Bird adalah karya perdana Greta Gerwig sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Film bergenre drama komedi ini rilis pada tahun 2017. Mengangkat kisah coming of age, Lady Bird akan membawamu terbang menuju lika-liku pencarian jati diri seorang remaja, serta konflik keluarga yang sarat akan makna.

Film ini dibintangi oleh Christine (Saoirse Ronan), Marion (Laurie Metcalf), Larry (Tracy Letts), Danny (Lucas Hedges), Julie (Beanie Feldstein), Kyle (Timothee Chalamet) dan Jenna (Odeya Rush).

Baca juga: 3 Will Be Free (2019): Kisah Persahabatan dan Upaya Balas Dendam

Plot

Christine yang akrab disapa Lady Bird adalah remaja kelas tiga di SMA Katolik khusus perempuan, Kota Sacramento, California. Di tahun terakhirnya bersekolah, Lady Bird bermimpi untuk meninggalkan kampung halamannya. Ia ingin merasakan hidup di luar kota dan melanjutkan pendidikannya di tempat berbudaya, seperti New York.

Keinginan itu rupanya tak disetujui sang ibu karena ekonomi keluarga yang pas-pasan. Ayahnya kehilangan pekerjaan dan kakaknya hanya bekerja di sebuah tokoh swalayan. Ini akhirnya membuat sang ibu, Marion, harus mengambil shift lebih untuk menyokong keuangan keluarga.

Meski ditentang, Lady Bird tetap memperjuangkan mimpinya. Kehidupannya bertambah pelik saat Marion tahu jika putrinya diam-diam akan kuliah di luar kota. Sebagai seorang ibu, Marion merasa sedih dan khawatir jika harus berpisah dengan anak perempuan satu-satunya. Meski demikian, ia tak pernah mengungkapkannya.

Lady Bird baru sadar jika Marion sangat menyayanginya saat membaca surat-surat yang diberikan ayahnya, Larry. Surat-surat tersebut ditulis oleh Marion yang ditemukan Larry di tempat sampah, kemudian diam-diam memberikannya pada Lady Bird.

Baca juga: Tully (2018): Perjuangan Ibu dengan Gangguan Mental

Menyoroti hubungan love-hate antara ibu dan anak

Masa remaja adalah masa yang bergejolak. Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mengeksplor banyak hal di sekitarnya. Oleh karenanya, masa remaja identik dengan masa pencarian jati diri.

Ada kalanya keinginan anak dalam mencoba hal baru bertentangan dengan kehendak orangtua. Hal ini dapat kita lihat dari konflik antara ibu dan anak yang telah tampak di menit-menit awal film. Lady Bird terlibat cekcok dengan Marion yang menentang keinginannya bersekolah di New York. Cekcok tersebut lalu merambas ke hal-hal lain dan berakhir saat Lady Bird melompat dari mobil yang sedang melaju.

Adegan pembuka film tersebut cukup menunjukkan karakter ibu-anak yang sama-sama keras. Mereka mudah terlibat dalam konflik-konflik kecil, seolah menunjukkan ada kebencian antara keduanya. Perdebatan yang terjadi karena masalah sepele sering mewarnai hubungan ibu-anak ini. Padahal, mereka adalah dua orang yang saling menyayangi, tapi tidak tahu cara mengungkapkannya.

Baca juga: Someone Great (2019): Patah Hati dan Menjadi Dewasa

Tidak melulu soal konflik keluarga

Film ini tidak hanya tentang konflik keluarga. Kisah asmara dan persahabatan turut mewarnai kehidupan Lady Bird. Lady Bird yang sempat menjalin hubungan dengan Danny, rekan klub teaternya, berakhir kandas saat tahu jika Danny adalah gay. Ia kemudian jatuh hati hingga melakukan pengalaman seks pertamanya dengan seorang musisi muda, Kyle, yang berakhir dikecewakan.

Hubungan persahabatannya dengan Julie pun naik turun sejak Lady Bird mencoba menjalin pertemanan baru dengan siswi populer di sekolahnya, Jenna. Ia bahkan melakukan hal anarkis dan berbohong mengenai tempat tinggalnya agar dapat berteman dengan Jenna.

Karakter pemain yang bikin gregetan

Menurut saya, Gerwig selaku sutradara film ini berhasil menggambarkan dinamika antara ibu-anak yang ruwet. Dua orang yang saling mencintai tapi sulit akur. Lady Bird yang terlihat degil, memiliki sisi rapuh, dan butuh perhatian. Ia selalu berpikir jika Marion tak suka dan sering meremehkannya.

Sementara Marion, di balik wataknya yang keras dan begitu protektif, ia sangat menyayangi Lady Bird. Hanya saja dalam menunjukkan perhatiannya, Marion kerapkali bersikap cerewet dan tegas yang dianggap menyebalkan oleh sang anak.

Akting pemain yang membuatmu hanyut

Menurut saya, dialog antar ibu dan anak mengalir begitu natural. Ini berhasil membuat saya pribadi hanyut dalam emosi yang mereka rasakan. Laurie Metcalf dan Saoirse Ronan mengeksekusi perannya sebagai ibu-anak yang begitu ekspresif dengan sangat baik dan terasa nyata. Hingga tiba di penghujung film, Lady Bird sukses mengaduk-aduk emosi saya dengan ending yang dikemas tidak klise dan realistis, namun memberikan perasaan yang membekas di hati.

Baca juga: Toxic Parents dalam Its Okay to Not Be Okay (2020)

Lady Bird adalah kisah remaja menuju usia dewasa yang menghibur, menyentuh, dan terasa dekat dengan kehidupan kita. Bak mencicipi cokelat hangat di musim hujan, film ini akan membuat hatimu hangat dan membawamu ke perasaan nostalgia.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here