Menyaksikan Accepted (2006), Menyingkap Borok Sistem Pendidikan Kita

0
80
Accepted,
Gambar: Movieclips Classic Trailers (Youtube)
  • Peringatan. Tulisan ini mengandung sopiler. Tidak diperkenankan untuk anda yang belum menonton filmnya.

Accepted adalah film begendre komedi yang rilis 2006 lalu. Ini adalah film garapan Steve Pink yang diproduksi oleh Universal Pictures dan Shady Acres Entertainment. Ditulis oleh Adam Cooper, Bill Collage, dan Mark Perez dengan mengangkat tema pendidikan.

Plot

Accepted adalah film tentang South Harmon Institute of Technology (S.H.I.T)  yang dibuat oleh Bartleby Gaines (Justin Long) dan teman-temannya. Untuk memuaskan para orang tua yang terus menuntut, mereka membuat sebuah kampus fiktif. Sebuah situs palsu disiapkan. Itu adalah situs yang meloloskan setiap pendaftar sebagai mahasiswa. Satu gedung juga mereka sewa untuk menyempurnakan kebohongan.

Ketika para orang tua percaya bahwa Bartleby dan temannya benar-benar lulus kuliah, masalah lain muncul. Situs palsu yang mereka buat telah meluluskan ratusan pendaftar.

Baca juga: Apakah Peninsula (2020) Semenarik Train to Busan (2016)?

Seharusnya kampus itu ditutup setelah drama dengan para orang tua berakhir sesuai rencana. Tapi, pertemuan mereka dengan para calon mahasiswa yang senasib dalam urusan tersingkir berkali-kali dari seleksi kampus telah merubah semuanya.

Lagipula, para calon mahasiswa pesakitan ini rela membayar untuk bisa kuliah. itu adalah kesempatan, menurut Bartleby dan rekan-rekannya.

Mengelola kampus, seharusnya cukup sulit mengingat nyaris semua karakter di S.H.I.T tidak punya pengalaman sebagai mahasiswa. Siapa sangka, pilihan pragmatis untuk membebaskan para mahasiswa memilih pengajar dan kurikulumnya sendiri jadi sesuatu yang menakjubkan.

Baca juga: Lady Bird (2017): Terbang Tinggi Menuju Pendewasaan Diri

Accepted lawan realitas

Accepted menunjukkan nasib kebanyakan anak yang tersingkir dari seleksi sistem pendidikan tinggi di seluruh dunia. Soal tekanan dari orang-orang terdekat saat mereka gagal. Tentang sulitnya bersaing tanpa hak istimewa seperti kemampuan finansial dan posisi sosial; lihatlah anak-anak Harmone University yang sibuk membicarakan soal kuliah di kampus bergengsi sebagai tradisi.

Kita juga menyaksikan bagaimana lebaynya branding satu institusi pendidikan, membuat perkembangan jadi terpusat pada kampus-kampus dengan nama besar. Sementara institusi pendidikan skala kecil, harus bertahan mati-matian ketika ditindas oleh kekuasaan kampus-kampus besar.

Sayangnya, di luar niat mulia untuk mengkritik pendidikan ada satu hal yang luput dari film ini. Itu soal bentuk kebebasan yang terlalu over untuk ukuran sistem pendidikan. Well, pemandangan pesta yang tak berkesudahan rasanya abnormal saja untuk sebuah lingkungan belajar. Tapi, tunggu dulu. Bukannya asal kata sekolah, scholae, artinya memang bersenang-senang.

Baca juga: 3 Will Be Free (2019): Kisah Persahabatan dan Upaya Balas Dendam

Wajah ideal model pembelajaran

Sebelum semester dimulai Bartleby menuliskan kalimat “what do you want to learn?” di papan tulis putih. Di sana mahasiswa bebas menuliskan apapun yang diinginkan. South Harmon Institute of Technology, punya jargon mengedepankan kreativitas.

Ini sangat berbeda dengan mutu pendidikan kita. Kurikulum yang tidak sesuai kebutuhan seringkali jadi beban. Kita belum menghitung kurikulum yang arahnya terus berubah secara persisten. Bikin kita bingung, pendidikan ini didesain buat menghasilkan manusia macam apa.

Sekilas, konsep S.H.I.T mirip dengan beberapa institusi pendidikan yang rajin berkampanye soal pendidikan alternatif; sebut misalnya Summerhil School yang didirikan A.S Neil, atau paling dekat ada Sanggar Anak Alam di Yogyakarta yang mengusung konsep serupa. Oh iya, jangan lupakan sekolahnya Totto Chan si gadis cilik di jendela.

Tapi pada satu titik, ketiga sekolah di realitas kita itu punya perbedaan tajam dengan kampus S.H.I.T dalam Accepted. Yah, S.H.I.T kebanyakan pesta.

Perpeloncoan, ternyata ada dimana saja

Saya awalnya berpikir, kalau perpeloncoan hanya ada di Indonesia yang feodal. Nyatanya, hirarki memang memberi keuntungan bagi siapapun, dimanapun. Lihat misalnya, saat Sherman Schrader (Jonah Hill) rela diperbudak untuk menjadi bagian dari kampus oleh teman angkatannya sendiri. Yah, kalau dipikir-pikir, situasi serupa memang beberapa kali muncul di film-film Hollywood sih.

Kritik

Dari segi teknis, tidak banyak yang bisa dibicarakan soal film ini. Mengingat ini bukan genre fantasi atau horor yang butuh lebih banyak efek visual dan suara. Jika ada yang perlu dikomentari, mungkin cuma eksekusi Steve Pink sang sutradara. Yang menurut Nathan Lee, performanya tidak sebagus di Grosse Pointe Blank dan High Fidelity.

Baca juga: Tully (2018): Perjuangan Ibu dengan Gangguan Mental

Accepted adalah pelajaran berharga buat saya; agar tiap orang bebas belajar apa yang mereka minati tanpa ada paksaan dan tekanan. Setelah menonton filmnya, keinginanku makin kuat untuk membuat wadah pendidikan alternatif yang gagasannya mirip S.H.I.T. Film ini jadi amunisi untuk mewujudkan hal itu. Saya sangat merekomendasikan film ini untuk siapapun yang punya ide sepertiku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here