Melihat Disney yang Berbeda di Mulan Live Action Movie (2020)

2
104
Disney,
Gambar: Walt Disney Studios (Youtube)
  • Peringatan. Tulisan ini mengandung spoiler. Tidak diperkenankan untuk anda yang belum menonton filmnya.

Mulan adalah adaptasi dari film animasi dengan judul sama yang tayang tahun 1998. Digarap oleh Walt Disney Pictures. Film ini ditulis oleh Elizabeth Martin, Lauren Hynek, Rick Jaffa, dan Amanda Silver dalam arahan sutradara Niki Caro.

Cerita Mulan bersumber dari legenda Tionghoa tentang seorang pejuang perempuan legendaris bernama Hua Mulan. Dalam film, Hua Mulan di perankan oleh Liu Yifei.

Plot

Hua Mulan adalah putri Hua Zhou, seorang veteran perang yang tenar. Mulan lahir dengan chi, energi kehidupan yang tidak terbatas. Umumnya, chi hanya dapat digunakan oleh laki-laki. Sementara perempuan pemilik chi seringkali harus menanggung aib dengan resiko diasingkan sebagai penyihir.

Aya Mulan sendiri bangga dan terus melatih Mulan menggunakan chi. Ibu Mulan, Hua Li, cemas karena hal ini. Kecemasan yang berasal dari kultur dimana perempuan menjadi pembawa kehormatan bagi keluarga hanya melalui pernikahan. Hua Li khawatir tidak ada yang ingin menikahi Mulan karena perangainya seperti laki-laki. Ia memaksa suaminya berhenti melatih Mulan.

Baca juga: Sekuel Inuyasha (Hanyou no Yashahime) akan Diadaptasi ke Anime, Musim Gugur 2020

Ketika kekaisaran China dijajah bangsa Rouran, tiap keluarga diseluruh wilayah kerajaan diperintahkan mengutus satu putera untuk menjalani pelatihan dan ikut berperang. Ayah Mulan sudah berumur tak bisa bertarung karena kakinya yang pincang.

Mulan akhirnya memutuskan terjun ke medan perang, menggantikan ayahnya dan menyamar sebagai lelaki. Keluarga Mulan harus tutup mulut soal identitasnya, karena tak ingin ada aib dan terusir seumur hidup.

Sinematografi

Secara sinematik, film ini sangat menarik. Alih-alih menekankan pada efek seperti kebanyakan film aksi. Latar seperti salju, pegunungan, dan padang rumput jadi aspek penting yang memanjakan mata saya. Mungkin karena belakangan tak sering keluar rumah.

Adegan perkelahian jadi hal yang dipersoalkan netizen karena dianggap kurang seru. Alasannya karena kehadiran dua aktor laga kenamaan, Jet Li dan Donny Yen. Tapi, bagi saya itu cukup wajar mengingat anak-anak adalah salah satu target pasar film garapan Disney ini.

Baca juga: Morbius (2021), Jadwal Rilis Hingga Pemeran

Jadi, jangan mengharapkan visualisasi yang brutal seperti darah atau potongan tubuh manusia. Apalagi mengharapkan adegan mesra, seperti ciuman atau semacamnya. Yah, mau bagaimana lagi, ini kan film keluarga. Toh, bagi penonton medioker tanpa ekspektasi tinggi seperti saya, film ini tidak mengecewakan kok.        

Bagian riset dan editing film ini sepertinya benar-benar bekerjasama. Lihat saja bagaimana penggunaan warna merah dan emas yang melekat pada kebudayaan Tiongkok jadi tone dominan dalam film ini. Mulan yang diangkat dari cerita rakyat Tionghoa, sudah sewajarnya memasukkan unsur kebudayaan Tionghoa. Terutama kebudayaan tradisionalnya. Set latar seperti bangunan, tradisi, dan suasana pedesaan apik rasanya Tiongkok banget deh.

Skoring

Mungkin ini yang membedakan Mulan dari film Disney kebanyakan. Mulan mengabaikan parade musikal dan tidak menonjolkan musik latar seperti Disney seharusnya. Semua musiknya hanya daur ulang instrumental dari versi animasi.

Mungkin film ingin berfokus pada dialog antar pemain. Ini bukan formula yang baru Disney gunakan sih, di seri Avengers aspek ini jadi kekuatan penting. Namun, menjadi segar karena diterapkan ke Mulan yang sasaran pasarnya, mungkin perempuan.

Mulan dan pesan-pesan kesetaraan

Melihat feminisme yang belakangan jadi tren, wajar jika Mulan membicarakan banyak isu perempuan. Yah, Disney hanya mengikuti keinginan pasar. Tapi argumen ini agak bermasalah, karena sejauh ini Mulan baru menghasilkan sebesar 37,6 juta USD seperti dilansir dari Watch Mojo. Masih jauh dari budget produksi sebesar 200 juta USD. Jadi, ada kemungkinan kalau Mulan adalah proyek ideologis Niki Caro.

Disney pada akhirnya merevisi stigma yang selama ini mereka produksi. Bahwa semua cerita tentang perempuan tidak melulu berpusat di pernikahan. Era para putri yang tak berdaya tanpa pangeran atau laki-laki telah berakhir. Itu jadi poin interest saya ke film ini. Oh iya, Mulan bukan putri sih. Dia perempuan biasa, dari keluarga biasa. Itu satu lagi, perbedaan Mulan dengan karakter ‘putri’ Disney yang lain.

Baca juga: 4 Cast Pemeran Utama Cowboy Bebop Live Action yang Akan Tayang di Netflix

Meski premis utamanya adalah perang dan kesetaraan, film ini tidak melupakan hal manis yang disukai kebanyakan orang, romansa. Mulan dan Hong Hui (teman sesama prajurit) jauh dari romansa yang erotis. Cinta mereka suci seperti anak SD. Itu membuat film ini berakhir makin manis.

Jangan lupakan, Mulan adalah film keluarga. Jadi isu keluarga adalah salah satu pusat cerita. Ayah yang berani melawan adat usang demi kebahagiaan anak. Mulan yang tak melupakan keluarga setelah menang perang. Adalah kombinasi premis klise, yang anehnya membuat saya kagum.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here