Sisi Gelap Para Pastor di Boston dalam Spotlight (2015)

0
38
Pastor,
Gambar: The Boston Globe (Youtube)

Spotlight adalah drama biografi kriminal Amerika Serikat. Film ini diadaptasi dari laporan kasus pelecehan seksual terhadap anak oleh beberapa pastor gereja katolik Roma di Boston. Sebuah investigasi yang berdedikasi dari tim “Spotlight” di media The Boston Globe.

Film berdurasi 129 menit ini disutradarai oleh Tom McCarthy. Spotlight sukses meraih kategori film terbaik di ajang Oscar 2016. Film yang dianggarkan 20 juta USD ini berhasil mendapatkan penghasilan sebesar 98 juta USD.

Baca juga: Silenced (2011) dan Beratnya Mengawal Kasus Kekerasan Seksual

Plot

Film dimulai dengan adegan kilas balik tahun 1976 yang menampilkan dua orang polisi di kantor kepolisian Boston. Mereka berdiskusi soal pastor Katolik Fr. John Geoghan, yang ditangkap atas kasus penganiayaan anak. Seorang asisten jaksa wilayah muncul tidak lama kemudian. Dia meminta para polisi membebaskan sang pastor dan menyembunyikan kasus ini dari media.

Pada tahun 2001, The Boston Globe merekrut seorang editor baru, Marty Baron. Di hari pertamanya bekerja, Baron bertemu Walter Robinson, editor tim Spotlight. Itu adalah tim yang terdiri dari beberapa reporter investigasi dengan pengalaman liputan berdurasi panjang.

Di rapat perdananya, Baron menanyakan kelanjutan berita dari kolom yang ditulis oleh Eileen McNamara. Laporan soal seorang pastor yang diduga terlibat dalam pelecehan seksual. Seperti mengulang kejadian di masa lalu, berita soal pastor itu tenggelam dan perlahan dilupakan oleh publik.

Baca juga: Kekerasan yang Mengintai Anak-anak dalam Silenced (2011)

Wartawan di hadapan kekuasaan para pastor

Meski isunya sensitif, premis utama film ini adalah pekerjaan jurnalistik. Spotlight yang diperankan oleh Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Live Schreiber, John Slattery, dan Brian d’Arcy bisa jadi semacam panduan yang seru untuk memahami kerja-kerja wartawan investigasi.

Film ini dikemas begitu intens. Lihatlah bagaimana reporter tim Spotlight bekerja keras mengumpulkan bukti dan mencari petunjuk untuk mengekspos para pelaku pelecehan seksual di lingkungan gereja Boston.

Tim Spotlight secara telaten melakukan penyelidikan dan mengumpulkan berbagai detail informasi yang menyingkap puluhan kasus serupa. Temuan mereka soal jumlah pastor yang melakukan pelecehan seksual cukup mencengangkan. Dari Geoghan seorang, menjadi 13 orang pastor, hingga akhirnya mencapai angka 87 pastor.

Baca juga: Sekilas tentang Nth Room, Kasus Eksploitasi Seksual yang Menginspirasi Extracurricular (2020)

Spotlight juga mengurai proses dan strategi investigasi menghadapi kekuasaan gereja. Mike Rezendes (Mark Ruffalo) misalnya, berusaha mengulik informasi meski berkali-kali ditolak oleh si pengacara nyentrik, Garabedian. Melihat kesungguhan Mike, Garabedian akhirnya bersuara soal dokumen kasus Geoghan yang telah bersifat publik.

Di sisi lain, Sacha Pfeiffer-mitra Mike, mengumpulkan kontak dan menghubungi para korban. Membujuk mereka yang trauma agar mau bersuara. Sacha melakukan wawancara tanpa melupakan empatinya. Itu adalah pekerjaan yang berat, mengingat sulitnya para korban pelecehan percaya dan terbuka kepada orang asing seperti para reporter.

Mengungkap kasus pelecahan para pastor gereja, menempatkan para wartawan tim Spotlight dalam posisi tersudut. Namun, nyali mereka tidak ciut. Semua demi mengungkap kebenaran yang harus diketahui publik. Tom McCarthy dan Josh Singer selaku penulis dan sutradara sukses menggarap Spotlight. Sebuah film jurnalistik yang mesti ditonton para pewarta.

Akurasi Sejarah

Laman Information is Beautiful mengklaim jika film Spotlight hanya mengikuti sekitar 76% fakta sejarah. Menurut laporan Nicole Laporte, McCarthy dan Singer memang menulis ulang banyak hal untuk kepentingan sinematik. Meski begitu, beberapa perubahan yang ada dalam Spotlight tetap dikonsultasikan dengan para pelaku sejarahnya.

Pfeiffer yang asli sempat menanyakan pada para kreator Spotlight seperti dikutip dari laporan Nicole. “Kami berbicara di telepon. Kami melakukan entri data. Kami meninjau dokumen. Bagaimana Anda membuat film tentang itu? ”

Film ini memang hanya menggambarkan peristiwa yang mengarah ke publikasi awal tim Spotlight. Sedangkan dalam peristiwa aslinya, tim Spotlight terus melakukan penyelidikan dan menerbitkan laporan tindak lanjut selama hampir dua tahun setelahnya. 

Ini menyebabkan beberapa peristiwa digambarkan terjadi lebih awal dari yang sebenarnya, termasuk adegan di mana mantan pendeta Ronald H. Paquin mengakui tindakan penganiayaan yang dilakukan.

Baca juga: 1980 dan Gwangju, Supir Taksi di Sempalan Sejarah

Penyalahgunaan kuasa agama, dari Boston Hingga Indonesia

Di indonesia sendiri, penyalahgunaan wewenang para pastor juga pernah terjadi. Polanya sama, para korban terpaksa bungkam di hadapan kuasa gereja. Ini menjadikan fenomena kekerasan seksual di lingkungan institusi agama sebagai gunung es. Ada, tapi tapi nyaris tak terlhat.

Tapi, itulah fungsi media. Menyuarakan apa yang benar meski menyakitkan. Baru beberapa bulan lalu, dua media besar yaitu tirto.id dan The Jakarta Post merilis laporan kolaborasi soal peristiwa kekerasan seksual di lingkungan gereja. Seperti yang dialami para wartawan tim Spotlight, itu bukan hal mudah. Ada dinding besar kekuasaan yang melindungi para pelaku.

Saya sendiri merasa harus menulis ini. Pertama, saya seorang perempuan yang secara sosial lebih rentan mengalami kekerasan seksual. Kedua, saya punya pengalaman bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa sehingga paham betapa sulitnya menulis sebuah laporan jurnalistik yang berkualitas. Ini adalah cara saya menghargai dedikasi mereka.

Para wartawan Boston Globe, reporter Tirto dan The Jakarta Post, dan kreator film Spotlight. Apa yang mereka lakukan mempertaruhkan banyak hal. Seperti teman-teman saya yang saat ini berjuang di jalan melawan kekuasaan.

Mereproduksi pengetahuan dan pengalaman mereka ke dalam sinema seperti dilakukan para kreator Spotlight, adalah satu tindakan penting dalam sejarah. Karena itu, saya akan rela mengantri untuk ke bioskop jika ada sineas yang tertarik memfilmkan liputan kolaborasi Tirto dan The Jakarta Post itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here